Belajar “LEADERSHIP” dari tokoh Yusuf bagian 3

10 09 2012

UNSUR LEADER DI DALAM YUSUF

2.1. Yusuf Sebagai Learner

Setiap zaman dalam kehidupan manusia memiliki masalahnya sendiri. Masalah-masalah itu dapat terjadi dalam seluruh bidang kehidupannya. Semua masalah ini merupakan alat yang efektif di tangan TUHAN untuk membentuk setiap orang menjadi seperti yang Dia inginkan bagi orang tersebut. Dalam proses pembentukan itu, TUHAN kerap kali mempergunakan perkara-perkara yang tidak menyenangkan. Karena dalam setiap perkara tersebut, sebenarnya TUHAN sedang mengajarkan nilai-nilai kebenaran yang penting. Setiap pelajaran tersebut berguna untuk memperlengkapi calon pemimpin tersebut di masa depan. Peter M. Senge mengemukakan “Pembelajaran yang paling kuat berasal dari pengalaman langsung.”[i]

Yusuf  salah satu tokoh pemimpin yang dipersiapkan TUHAN. Dalam proses persiapannya, TUHAN mengajarnya di tiga lingkungan yang berbeda satu dengan lainnya. Pertama Yusuf  belajar di tengah-tengah keluarganya, kedua ia belajar di lingkungan rumah Potifar, dan ketiga ia belajar di dalam penjara. Nilai-nilai apa saja yang dipelajari oleh Yusuf di ketiga tempat tersebut:

A. Yusuf Di Bawah Asuhan Yakub.

Keluarga merupakan lembaga pertama yang dibuat oleh TUHAN. Keluarga tersebut terdiri dari Adam dan Hawa. Tuhan menempatkan mereka di muka bumi ini untuk menggenapi tujuan-Nya, yaitu untuk beranak cucu dan untuk mengusahakan bumi (Kej 1: 27-28). Oleh karena itu, TUHAN membentuk keluarga itu pertama-tama terdiri dari Ayah, Ibu, dan kemudian TUHAN membuatnya beregenerasi sehingga ada anak-anak di dalamnya. Dalam kehidupan keluarga orang yang takut akan Allah, anak merupakan berkat Tuhan yang harus di rawat, dipelihara, dan dicukupi segala kebutuhannya.

Yusuf tokoh utama dalam makalah ini pertama-tama lahir, di besarkan, dan belajar tentang nilai-nilai penting untuk kehidupannya di masa yang akan datang dimulai dari keluarganya. Nama ayahnya adalah Yakub. Yakub ayahnya beristerikan dua orang, yaitu Lea dan Rahel. Sebelum kelahirannya, telah lahir sepuluh orang anak dalam keluarga ayahnya. Jadi Yusuf  adalah anak kesebelas dari dua belas saudara laki-laki dan seorang saudara perempuan. Ia lahir sebagai satu jawaban atas pergumulan hebat dari ibunya di hadapan TUHAN dan manusia (Kej 30 : 1 – 24).

Pelajaran apa saja yang dipelajari oleh Yusuf  selama ia berada di antara keluarganya?

  1. 1.      Kasih dan Penghargaan

Alkitab tidak menjelaskan berapa lama Rahel ibunya hidup untuk mengajarkan nilai-nilai kehidupan kepada Yusuf. Namun menurut catatan Alkitab, Yusuf lahir dari seorang ibu yang sangat dikasihi oleh Yakub ayahnya. Setelah ibunya meninggal dunia, ia di asuh oleh ayahnya dengan penuh kasih. Penulis kitab Kejadian mencatat, ayahnya Yakub sangat mengasihinya melebihi saudara-saudaranya yang lain. Kata “mengasihi” dalam nats ini, dalam bahasa aslinya disebut sebagai “‘akhab” yaitu satu bentuk ungkapan kasih sayang seorang ayah kepada anaknya[ii] (bnd. Kej 37: 3-4).

Kasih sayang Yakub terhadap Yusuf adalah kasih yang bersadar karena alasan terntentu, pertama-tama karena ia adalah anak yang terlahir baginya dari Rahel di masa tuanya, dan ke dua karena Yusuf seorang yang berperilaku lebih baik di bandingkan dengan saudara-saudaranya. Kasih Yakub kepada Yusuf  terwujud nyata dalam bentuk kasih yang disertai dengan penerimaan dan penghargaan.

Penerimaan yang diberikan Yakub terhadap Yusuf terlihat dalam tindakannya untuk menerima segala keberadaan Yusuf sebagai seorang manusia yang utuh. Sekali pun Yusuf memiliki keterbasan, Yakub ayahnya tetap mengasihinya. Penghargaan yang berwujud nyata dalam bentuk pemberian itu sangat penting dalam kehidupan setiap anak. Yusuf sebagai anak yang telah bertindak benar, hidup jujur, dan tidak ikut dalam perbuatan jahat saudara-saudaranya menerima penghargaan dari Yakub berupa hadiah jubah maha Indah.

Sebagai seorang anak manusia, Yusuf tidak jauh berbeda dengan anak manusia lainnya di muka bumi ini. Ia pun kadang kala ingin di sanjung. Alkitab menyatakan kepada pembacanya bahwa Yusuf suka memamerkan jubah maha indah pemberian ayahnya itu kepada saudara-saudaranya.

Kasih dan penghargaan yang diterimanya dari Yakub memberikan dampak bagi dirinya. Kasih dan penghargaan mengubah Yusuf menjadi seorang yang penuh kasih di masa depan. Sekali pun ia mengalami tindakan-tindakan yang tidak layak dari banyak orang, ia tetap dapat menunjukkan kasih kepada mereka.

  1. 2.      Tanggung Jawab Terhadap Tugas-tugasnya

Alkitab menyatakan bahwa Yusuf adalah anak yang dikasihi oleh Yakub melebihi anak-anaknya yang lain.  Perlakuan khusus ayahnya kepada dirinya tidak membuat Yusuf menjadi seorang yang manja, dan pemalas. Yusuf  tidak memilih-milih pekerjaan. Apa pun tugas yang dibebankan oleh Yakub kepadanya, ia siap untuk melaksanakannya. Penulis kitab Kejadian mencatatkan; ketika Yusuf berusia tujuh belas tahun, ia suka untuk mengembalakan domba-domba ayahnya bersama dengan saudara-saudaranya (Kej 37:2).

Yusuf terlatih menjadi seorang yang bertanggung jawab atas tugas yang diterimanya. Ia tidak pernah menyerah sekali pun ia mengetahui akan adanya rintangan besar di depannya. Penulis kitab Kejadian menuliskan; suatu waktu pergilah saudara-saudaranya mengembalakan kambing domba ayah mereka ke Sikhem. Kemudian Yakub menyuruhnya pergi mencari tahu tentang keadaan  saudara-saudaranya itu. Menurut catatan Alkitab, Yakub menyuruhnya untuk menemui mereka dengan menempuh perjalanan dari lembah Hebron ke Sikhem (Kej 37:12-17).

Berdasarkan data yang diberikan oleh Alkitab terbitan LAI, jarak antara Hebron dengan Skihem apabila ditarik garis lurus adalah sekitar ±100 km. Daerah tanah Kanaan terkenal dengan daerahnya yang berbukit-bukit terjal, dan di sepanjang perjalanan yang berbukit-bukit itu hidup binatang-binatang buas yang siap menghadangnya. Pada waktu Yusuf tiba di Sikhem, ia tidak menemui mereka di situ. Yusuf berusaha mencari mereka ke sumua tempat penggembalaan yang ada di Sikhem, tetapi ia tidak juga menemukan mereka. Yusuf memang tidak menemui mereka di situ, tetapi ia tetap berusaha untuk mencari mereka. Alkitab mencatat, Yusuf  berjalan ke sana ke mari di padang, dan ia bertemu dengan seorang laki-laki. Mungkin karena laki-laki tersebut melihatnya begitu sibuk mencari-cari sesuatu dengan mimik wajah yang dipenuhi kecemasan, lalu orang itu menanyakan kepada Yusuf: “Apakah yang kau cari?” Yusuf tidak menyia-yiakan kesempatan yang ada. Ia segera mencari tahu kepada orang itu, kemana kira-kira saudara-saudaranya pergi menggembalakan kambing domba mereka. Dari hasil pencariannya itu, ia mendengar bahwa saudara-saudaranya telah pindah ke tempat penggembalaan di Dotan.

John J. Davis menolong penulis untuk menemukan data-data tentang daerah dotan ini. Menurut John, Dotan adalah berada di antara Sikhem dan Samaria. Jarak antara Samaria dengan Dotan kira-kira 12 mil di bagian Utara Samaria. 12 mil adalah setara dengan 19,1 km ke utara Samaria. Samaria berada di di bagian utara Sikhem. Jarak antara Sikhem dengan Samaria adalah sekitar 1,08 km. Ini berarti bahwa Yusuf harus menempuh jarak jarak kira-kira 20 km lagi. Pekerjaan Yusuf yang sangat berat ini menuntut satu kemauan yang keras. Apakah Yusuf menyerah? Jawabannya adalah tidak. Berdasarkan catatan Alkitab, ternyata Yusuf tetap semangat untuk mencari saudara-saudaranya sesuai dengan perintah ayah mereka kepadanya.

Di bagian sebelumnya, Alkitab mencatat bahwa saudara-saudaranya saudara-saudaranya membencinya. Kebencian saudara-saudaranya itu jelas terlihat dalam sikap dan perilaku saudara-saudaranya yang selalu menyapanya dengan tidak ramah (Kej 37:4). Kebencian mereka itu semakin nyata ketika Yusuf mendapatkan mimpi tentang menyabit gandum di ladang. Dimana Yusuf menceritakan bahwa berkas-berkas gandum yang disabit saudara-saudaranya itu ternyata bersembah sujud kepada berkas-berkas gandum yang disabitnya. Alkitab menegaskan bahwa kebencian saudara-saudaranya itu tidak berhenti sampai di situ. Beberapa waktu setelah mimpi yang pertama itu, ternyata Yusuf kembali bermimpi. Dan di dalam mimpinya ia melihat bahwa ada bulan, Matahari dan sebelas bintang,  sujud kepadanya.

Berdasarkan catatan-catatan Alkitab tersebut, nyata bagi pembaca bahwa kebencian mereka bukanlah kebencian yang biasa-biasa kepada Yusuf. Keadaan itu tidak menjadi alasan bagi Yusuf untuk tidak melakukan tugas yang dibebankan ayah mereka kepada dirinya. Dalam hal ini, Yusuf juga belajar tentang ketaatan sebagai bagian dari wujud rasa tanggung jawabnya untuk melakukan tugas yang dipercayakannya kepada dirinya.

  1. 3.      Optimisme dan sifat pantang menyerah.

Dari kisah pencarian Yusuf atas saudara-saudaranya ini tersirat satu proses pembelajaran untuk tetap optimis menjalani hidup. Sekali pun berat tantangan dan rintangan yang harus di lalui, ia tetap optimis. Optimisme adalah satu modal untuk dapat bertahan hidup. Optimisme adalah satu tekat yang lahir dari dalam diri setiap orang. Dengan sifat optimis setiap orang dapat menaruh harapan baik untuk mengakhiri satu pertandingan dengan optimal.

Optimisme merupakan lawan kata dari pesimisme. Orang yang optimis memiliki sudut pandang yang berbeda dengan orang yang pesimis. Orang yang pesimis senantiasa melihat segala sesuatu dari sudut pandang positif. Artinya bahwa ia seantiasa melihat peluang-peluang yang masih ada di balik setiap masalah. Orang yang optimis ini cenderung dapat di andalkan menjadi seorang pemimpin di masa depan. Berbeda dengan orang pesimis. Orang pesimis biasanya memandang masalah sebagai sesuatu yang harus dihindari, dan ia cenderung mudah menyerah apabila diperhadapkan dengan masalah.

  1. 4.      Disiplin.

Disiplin adalah satu bagian dari pembelajaran. Disiplin berasal dari bahasa Inggris, yaitu kata “disciple” yang artinya menjadi murid.[iii] Selama Yusuf berada di dalam asuhan Yakub ayahnya, ia juga menerima teguran sebagai bentuk dari pendisiplinan yang ditetapkan ayahnya baginya. Alkitab mencatatkan, ketika ia menceritakan mimpinya dengan bersemangat di hadapan Ayah dan ibunya, serta saudara-saudaranya, ia ditegor oleh Yakub.

Dalam peristiwa ini seolah-olah tidak ada yang salah. Karena Yusuf sendiri sebenarnya tidak sengaja untuk mengatakan itu untuk meninggikan dirinya, ini adalah wujud kepolosannya. Namun, dari hasil perenungan penulis terhadap kisah ini, penulis menemukan bahwa Yakub ingin agar Yusuf  berhati-hati dalam menyampaikan berita yang diketahuinya. Sekali pun berita itu benar merupakan satu pernyataan Ilahi ke depan, namun sikap hormat harus tetap menyertai penyampaian itu.

  1. 5.      Pengenalan akan TUHAN, dan bagaimana mengaktualisasikannya dalam kehidupan praktis.

Alkitab mencatat bahwa Ayah Yusuf adalah seorang yang memiliki pengenalan yang baik akan TUHAN Allahnya. Hal ini tersirat dalam catatan-catatan berikut ini:

  1. Kejadian 32: 1-2; 22-30. Dalam peristiwa ini diceritakan bahwa Yakub ayahnya bertemu dengan malaikat. Pertemuan pertama yang dikisahkan dalam ayat 1 dan 2 tidak di catat bahwa Yakub ayahnya menahan malaikat tersebut dan juga tidak menyuruh  malaikat itu untuk memberkatinya, karena Yakub ayahnya mengenali mereka sebagai malaikat sungguhan. Namun berbeda dengan kisah pertemuannya dengan malaikat di ayat 22-30, kali ini ia tidak memngijinkan malaikat itu pergi meninggalkannya sebelum malaikat tersebut memberikan berkat ke atasnya. Hal ini disebabkan karena Yakub ayahnya mengenal malaikat itu sebagai Allah yang menyamar sebagai malaikat (theofani).
  2. Yakub suka memberikan persembahan kepada TUHAN Allah Israel (Kej 33:18-20; 35: 1)
  3. Yakub taat kepada TUHAN Allah (Kej 35:1-15).

Di sini penulis kitab ini dengan jelas mencatatkan : “Allah berfirman kepada Yakub: “Bersiaplah, pergilah ke Betel, dan buatlah di situ mezbah bagi Allah, yang menampakkan diri kepadamu, ketika engkau lari dari Esau, kakakmu” (Kej 35:1).

Satu pelajaran yang menarik adalah nats ini menjelaskan bahwa Yakub tidak pergi sendiri, tetapi ia dan semua keluarganya (termasuk Yusuf) turut serta beribadah dengan mempersembahkan korban kepada TUHAN Allah (Kej 35: 2). Sebagai wujud ketaatan itu, Yakub menekankan kepada semua anggota keluarganya agar mereka hanya menyembah kepada Allah, dan tidak kepada dewa-dewa asing.

  1. Hidup Jujur dan tidak takut memperkatakan kebenaran, serta melindungi yang lemah.

 

Pada pasal yang ke 37 : 2 penulis kitab ini menceritakan sikap Yusuf ketika melihat kejahatan saudara-saudaranya.  Yusuf tidak menutup-nutupi kejahatan saudara-saudaranya itu. Pada waktu ia dan saudara-saudaranya itu pulang dari menggembalakan kambing domba ayah mereka, ia menyampaikan kepada ayah mereka perihal kejahatan yang telah dilakukan saudara-saudaranya itu.

Dalam nats aslinya, perbuatan jahat dari saudara-saudaranya itu adalah “raah” yaitu satu bentuk perbuatan jahat yang bersifat alamiah, dan juga bersifat moral.[iv] Menurut penulis, kemungkinan saudara-saudara Yusuf tersebut melakukan kejahatan-kejahatan berikut ini : mencuri milik orang lain, merusak milik orang lain, dan sebagainya. Dalam perbuatan jahat saudara-saudaranya itu, ada kemungkinan bahwa Yusuf pun diajak oleh saudara-saudaranya untuk ikut melakukannya. Melihat Yusuf tidak juga menuruti ajakan mereka, ada kemungkinan mereka menyakiti Yusuf juga.

Sifat jujur dan keterus terangan Yusuf dipertegas oleh catatan kitab ini di nats-nats berikutnya, khususnya ketika ia hendak menceritakan mimpi-mimpinya. Berdasarkan catatan-catatan tersebut, jelaslah bahwa Yusuf tidak kompromi atas kejahatan saudara-saudaranya itu. Akibat dari tindakannya ini, Yakub ayahnya semakin mengasihinya, tetapi ia dibenci saudara-saudaranya. Pelajaran yang dipetiknya dari peristiwa ini adalah bahwa sikap jujur dan benar berbuahkan kasih dan perlindungan dari Ayahnya.

Ted ward mengemukakan dalam keluarga kita mengalami pengalaman-pengalaman dan belajar banyak tentang nilai-nilai yang paling penting.[v] Pengalaman-pengalaman Yusuf selama berada di dalam asuhan orang tuanya menolongnya menjalani kehidupannya. Dimana pun Yusuf berada, ia tetap hidup berdasarkan nilai-nilai tersebut.

B. Yusuf di Rumah Potifar Sebagai Budak.

Setelah melewati masa-masa pembelajaran di bawah asuhan ayahnya, TUHAN membawanya ke satu tempat yang jauh dari rumah ayahnya. Di tempat itu Yusuf diajar untuk mempraktekkan nilai-nilai yang di dapatkannya selama berada di bawah asuhan ayahnya.

Pada tahap pembelajaran yang ke dua ini, TUHAN membawanya masuk kepada satu situasi yang benar-benar berbeda dengan situasi di lingkungan rumah ayahnya. Ada perbedaan yang sangat signifikan yang harus alami oleh Yusuf. Perbedaan itu dapat dibuat dalam satu tabel di bawah ini:

Yusuf di rumah Ayahnya

Yusuf di Rumah Potifar

  • Status sebagai anak dan sekaligus sebagai orang merdeka
  • Bekerja sesuai dengan batasan yang normal.
  • Dihargai dan dikasihi
  • Status sebagai budak, dan
  • Harus bekerja siang dan malam
  • Diperlakukan sesuka hati tuannya

Perpindahan ke Tanah Mesir ini dilatar belakangi oleh kebencian dari saudara-saudaranya. Kebencian itu semakin hari menguasai hati dan pikiran saudara-saudaranya. Akibatnya, ketika Yusuf menemui mereka di padang rumput Dotan, mereka bersepakat untuk membunuhnya. Dan di dalam peristiwa itu, Allah menyelamatkan Yusuf dari rencana jahat saudara-saudaranya dengan memakai kakaknya Ruben. Pada akhirnya Yusuf dijual sebagai budak kepada kafilah Midian (Kej 37:25-28). Melalui kafilah inilah Potifar membeli Yusuf dan mempekerjakannya sebagai budak di rumahnya (Kej 39).

  1. 1.      Belajar kerendahan hati

Kerendahan hati merupakan modal penting bagi setiap pemimpin. Kerendahan hati seorang pemimpin dalam menjalankan kepemimpinan bukan berarti tanpa wibawa, dan atau otoritas. Ada satu kisah menarik dari kehidupan seorang Abraham Lincoln. Sebelum ia menjabat sebagai seorang presiden, ia aktif di kemiliteran. Suatu waktu, ketika mereka sedang dalam perjalanan ke medan pertempuran, ia menyamar sebagai orang biasa, dan melewati kelompok pembawa perbekalan. Pada waktu itu, pemimpin peleton perbekalan memberikan aba-aba kepada anggotanya mendorong gerobak yang sedang terperosok ke dalam lubang. Melihat masalah itu, Abraham segera menghapiri regu tersebut, dan kemudian memberikan instruksi dan bantuan tenaga untuk mendorong gerobak tersebut. Setelah itu ia membuka penyamarannya. Melihat tindakan Abraham yang memimpin dengan tindakan yang nyata, pemimpin pasukan malu. Mengapa? Karena Abraham Lincoln adalah atasannya.

Kerendahan hati seorang pemimpin menolongnya menjadi seorang pemimpin yang efektif. Pemimpin yang demikian bukan hanya memberikan aba-aba, tetapi juga turut terlibat dalam memberikan jawaban atas persoalan yang dihadapi oleh orang-orang yang ada di bawah kepemimpinannya. Inilah yang disebut sebagai pemimpin hamba.

TUHAN mempersiapkan Yusuf menjadi seorang pemimpin hamba. Oleh karena itu TUHAN menuntunnya ke Mesir. Di sini Yusuf menjadi seorang budak. Perubahan status ini menyebabkan banyak perubahan dalam hidup Yusuf. Pada waktu ia masih berada di bawah asuhan ayahnya, ia dapat saja menugaskan budak ayahnya untuk mengerjakan pekerjaan terntentu. Di rumah Potifar, ia tidak mempunyai hak untuk menolak dan menghibahkan tugas tertentu kepada orang lain. Sekarang ia bekerja atas kehendak dan untuk tujuan orang lain yang telah membelinya. Ini tidak mudah, harus belajar melepaskan haknya untuk menuntut dan memerintah.

  1. 2.      Belajar untuk bergantung kepada providensia Allah.

Perpindahan Yusuf ke rumah Potifar sebagai seorang budak menyebabkan ia harus belajar bergantung pada providensia Allah. Status sebagai seorang budak belian dapat diartikan bahwa ia sudah tidak mungkin mendapatkan pertolongan dari pihak mana pun. Ia harus bekerja sepenuh waktu sesuai dengan kehendak tuannya, dan sebagai budak belian ia tidak mempunyai hak untuk menolak atas permintaan tuannya (band. Kej 16:2-3; 30: 3-13). Namun menurut catatan Kitab Kejadian 39, TUHAN Allah memeliharakan dengan memberikan keberhasilan kepadanya, dan mengangkatnya menjadi orang kepercayaan Potifar tuannya itu.

  1. 3.      Belajar bekerja dengan tanggung jawab yang lebih besar

Di rumah ini, Yusuf bekerja sebagaimana layaknya seorang budak. Yusuf disertai Tuhan sehingga segala sesuatu yang dikerjakannya berhasil. Potifar tuannya itu melihat bahwa keberhasilan Yusuf adalah sebagai dampak penyertaan TUHAN Allah yang Yusuf sembah (Kej 39:2). Karena itu Potifar sangat mengasihi dia, sehingga ia diperkenankan melayani tuannya itu. Kepercayaan Potifar semakin bertambah-tambah atasnya, dan menyerahkan segala miliknya pada kekuasaan Yusuf.

Apakah Yusuf menjadi seorang yang besar kepala? Berdasarkan fakta-fakta yang dicatat dalam Alkitab, Yusuf tidak berubah. Yusuf tetap hidup dalam takut akan TUHAN. Yusuf senantiasa bergantung sepenuhnya kepada TUHAN. Hasilnya, TUHAN memberkati segala milik Potifar.

  1. 4.      Belajar untuk bekerja pada batas-batas tanggung jawabnya.

Ada pepatah yang berbunyi demikian: “Semakin tinggi satu pohon, semakin besar angin yang menggoncangnya.” Ciputra mengemukakan “semakin tinggi bagunan, perlu pondasi yang makin dalam.”[vi] Pada awal kehidupan Yusuf di rumah Potifar, ia hanyalah budah biasa. Namun seiring dengan perjalanan waktu ia mengalami peningkatan dari seorang budak biasa menjadi seorang kepercayaan dan tinggal di rumah Potifar. Hari demi hari di menjalankan tugas tanggung jawabnya dengan baik. Ketenangan bekerja sebagai orang kepercayaan di rumah tuannya mulai berubah. Isteri tuannya yang melihat parasnya yang manis dan elok jatuh hati kepadanya. Isteri tuannya itu menggodanya, serta memintanya untuk tidur bersama serta bersetubuh.

Menanggapi ajakan isteri tuannya itu, Yusuf mengatakan: “Dengan bantuanku tuanku itu tidak lagi mengatur apa yang ada di rumah ini dan ia telah menyerahkan segala miliknya pada kekuasaanku, bahkan di rumah ini ia tidak lebih besar kuasanya dari padaku, dan tiada yang tidak diserahkannya kepadaku selain dari pada engkau, sebab engkau isterinya” Yusuf tahu artinya bekerja pada batas-batas tanggung jawabnya.

  1. 5.      Belajar untuk tetap hidup dalam takut akan Allah. 

Pada waktu isteri tuannya menggoda Yusuf berkali-kali, Alkitab mencatat tanggapan Yusuf terhadap godaan yang dilancarkan oleh isteri tuannya itu. Tuhan Allah mengijinkannya masuk dalam situasi yang memaksanya untuk membuat satu pilihan. Yusuf memilih untuk tidak megurus hal-hal yang diluar kendalinya (Kej 39: 8-9a). Ia tidak mempergunakan kesempatan yang ada untuk kepentingannya sendiri sekali pun ia dapat saja memanfaatkan kesempatan yang ada itu. Alkitab menegaskan bahwa isteri tuannya mengodanya hari demi hari. Dan penegasan Alkitab tentang kemungkinan bagi Yusuf untuk mengikuti keinginan isteri tuannya besar peluangnya (Kej 39: 11). Ia lebih memilih untuk mengaktualisasikan nilai-nilai kebenaran tentang takut akan TUHAN dalam satu sikap yang teguh untuk menghormati TUHAN (Kej 39:11-20).  Yusuf lebih memilih menerima hukuman pisik (dipenjarakan) daripada ia harus melakukan kejahatan di mata Tuhan.

Ken Blanchard dan Phil Hodges mengemukakan : “Agar berhasil mengatasi godaan berupa menjalani kepemimpinan yang melayani diri sendiri, setiap hari Anda harus menaruh EGO-mu di altar dan memuji Allah saja.”[vii] Dalam pembelajaran di rumah Potifar ini, Yusuf berhasil menjadi pribadi yang berpusat pada kehendak Allah, dan bukan pada diri sendiri.

C. Yusuf Di Penjara Tahanan Raja.

Yusuf telah melewati masa-masa pembelajaran di dua tempat yang berbeda.  Setelah itu, TUHAN Allah membawanya ke dalam penjara, bukan karena kesalahan yang diperbuatnya.

Penahanan Yusuf di penjara tahanan-tahanan raja ini merupakan peristiwa yang unik. Setelah Yusuf ditahan di penjara raja tersebut, penulis kitab ini melanjutkan isinya dengan peristiwa penahanan juru minuman dan juru roti raja Firaun. Alkitab mencatat setelah keduanya di tahan bersama dengan Yusuf, kemudian mereka mendapatkan mimpi, dan mimpi itu sangat mengganggu pikiran mereka. Akibatnya, mereka menjadi sangat gusar. Kemudian Yusuf  menafsirkan mimpi keduanya, dan berdasarkan arti mimpi itu, terjadilah demikian kepada mereka berdua. Juru minuman raja dikembalikan ke posisinya semula, dan juru roti raja digantung di tiang gantungan.

Pada tahap pembelajaran di penjara ini TUHAN mengajarkan beberapa nilai kehidupan kepadanya, anatar lain :

  1. Tuhan mengajarkan agar ia menjadi seorang yang peka akan kebutuhan orang-orang di sekitarnya (Kej 40 : 6-7). Seorang pemimpin yang baik, pada hakikatnya selalu dituntut untuk mengetahui atau menebak kebutuhan (need), keinginan (want) dan harapan (expectation) orang yang ada di wilayah kepemimpinannya. Dengan demikian ia dapat memahami orang-orang di sekitarnya. Yusuf  peka terhadap kebutuhan kedua pegawai istana raja tersebut. Dalam kasus ini, Yusuf  belajar untuk memperkatakan perihal TUHAN Allah yang adalah sumber hikmat dan pengetahuan (40: 8).
  2. Tuhan mengajarkannya untuk bersabar menantikan waktu yang paling tepat untuk mengalami janji-janji TUHAN. Fakta menyatakan bahwa setelah juru minuman Raja kembali ke posisinya, Yusuf berpesan kepada juru minuman raja agar meingingatnya (Kej 40:14). Namun fakta berbicara lain, ia dilupakan untuk beberapa waktu lamanya (band. Kej 40: 20-23; 41: 1-13). Menjadi seorang pemimpin yang efektif membutuhkan pembentukan dalam berbagai bidang kehidupannya. Pembentukan itu mau dan atau tidak mau haruslah dilewati setiap orang.

[i] Senge, Peter M., Disiplin Klima, Seni & Praktek dari Organisasi Pembelajar, (Jakarta Barat: Binarupa Aksara, 1996), hal. 23.

[ii] Alkitab Elektronik e-sword, Hebrew Strong Corcondance, H157

[iii] Pocket Dictionary 1.0., Copyright 2005 TJ Mobile.

[iv] Alkitab Elektronik e-sword, Hebrew Strong Corcondance, H7451

[v] Ward, Ted, Nilai Hidup Dimulai Dari Keluarga, (Malang: Penerbit Ganddum Mas, 1988), hal. 7.

[vi] Ciputra & Tanan, Antonius, Menjadi Manusia Unggul Yang Disertai Tuhan. (Jakarta: Bethlehem, 2003), hal.19.

[vii] Blanchard, Ken. & Hodges, Phil., LEAD LIKE JESUS, (Tangerang: Visimedia, ed. 2, 2007), hal. 90.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 376 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: