Beranda » Edukasi » Bahan Pelajaran » Belajar Berkhotbah

Belajar Berkhotbah


PENDAHULUAN

Berkhotbah adalah satu aktifitas yang sudah tidak asing dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan gereja. Sederhananya kegiatan ini sudah tidak asing di kalangan gereja. Berikut ini sebuah artikel yang sengaja saya kutip dari http://www.facebook.com/notes/vineyard-community-church-indonesia/7-tanda-khotbah-yang-baik/143704645701429

7 tanda Khotbah yang Baik
by Vineyard Community Church, Indonesia on Wednesday, May 4, 2011 at 9:21am ·

 Tapi apa sebenarnya adalah khotbah yang baik?Semua orang ingin mendengar khotbah yang baik.

Singkatnya, sebuah khotbah yang baik melibatkan teks Alkitab, mewartakan Injil, menghubungkan Firman Tuhan bagi kehidupan umat Allah, adalah terorganisasi dengan baik dan mudah dimengerti, menangkap imajinasi pendengarnya, disampaikan dengan baik, dan orang-orang berorientasi terhadap kehidupan di Tuhan dunia.

1. Sebuah Khotbah Yang Baik Melibatkan Teks Alkitabiah

Oleh karena itu, pengkhotbah yang baik berusaha untuk melibatkan ayat-ayat Alkitab serius, dengan cara yang menarik, inspiratif, dan relevan.Memikirkan khotbah sebagai respon serius mengambil sifat Alkitab sebagai Firman Tuhan, saksi hidup yang masih menimbulkan tanggapan dari mereka yang mendengarnya.Dalam Alkitab, pendeta telah mendengar Allah berbicara sedemikian rupa sehingga dia harus mengatakan sesuatu kembali, pertama sebagai dia bekerja pada khotbah dan kemudian jemaat bahwa hari Minggu.Dalam cara yang sangat nyata, khotbah merupakan respon untuk membaca Kitab Suci.Historis, khotbah Kristen selalu mengikuti pembacaan Alkitab.

2. Khotbah Yang Baik Memproklamasikan Injil

Bukankah memberitakan Alkitab sama seperti memberitakan Injil?Tunggu sebentar.

Untuk kata lain, kita nilai Alkitab sehingga sangat tepat dan terutama karena mengandung Injil.Jadi sementara kita harus lari ke Alkitab untuk menemukan Kristus, Luther menasihati, kita harus menghindari jatuh pada lutut kita untuk menyembah kayu dan jerami.Alkitab, Luther berkata, adalah seperti palungan di mana anak Kristus terletak.Luther cara yang baik menempatkan ini.Pada saat yang sama, meskipun, ada beberapa nilai dalam menyadari bahwa kita tidak bisa begitu saja menyamakan keduanya.Tentu saja, pengertian kita tentang Injil (di singkat, apa yang Tuhan telah lakukan melalui Yesus Kristus bagi kita dan seluruh dunia) muncul dari kesaksian Alkitab.Ya dan tidak.

Tugas kita sebagai pengkhotbah alkitabiah adalah mendekati bagian-bagian Alkitab (akan mereka perumpamaan, perkataan hikmat, bagian dari Lama atau Perjanjian Baru) dengan dua tugas dalam pikiran:Tugas utama Pendeta dalam berhubungan dengan setiap bagian Alkitab, karena itu, adalah untuk mengatakan sebuah kata tentang apa yang Allah telah dilakukan dan masih dilakukan melalui Yesus Kristus bagi kita dan bagi seluruh dunia.

  • untuk mendengar pengakuan iman tertentu yang dibuat dalam bagian tersebut dan
  • untuk mengaitkannya dengan rasa keseluruhan kita tentang apa Allah sampai dalam hidup kita dan dunia melalui Yesus.

Artinya, apa pun yang Anda khotbah tentang, entah bagaimana hal ini berkaitan dengan pekerjaan yang sedang berlangsung dari Tuhan kita telah datang untuk mengetahui yang paling benar melalui Yesus Kristus.

3. Khotbah Yang Baik Menghubungkan Firman Tuhan Bagi Kehidupan Umat Allah

Khotbah adalah kata inkarnasi, salah satu yang menegaskan kembali komitmen Allah untuk bertemu kita di mana kita berada.Bagian dari pentingnya doktrin Kristen tentang Inkarnasi merupakan komitmen Allah untuk dapat diakses, untuk berbicara kata ilahi dalam bentuk manusia, untuk mengambil banyak kita dan hidup kita.

Untuk berbicara tentang “kasih Tuhan” atau “maaf” atau “rahmat” secara umum masuk akal sangat sedikit tanpa menunjuk ke contoh-contoh spesifik dan contoh cinta, pengampunan, dan rahmat dalam hidup kita dan dunia di sekitar kita.Untuk kata lain, kita bisa pergi begitu jauh mengatakan bahwa tidak ada Injil yang universal selain dari cara memanifestasikan dirinya dalam aspek-aspek tertentu dan konkrit dari kehidupan aktual kita.

Di sisi lain, khotbah yang hanya “relevan”-berfokus pada tren dirasakan terbaru, perlu, atau tragedi dalam masyarakat tanpa melihat isu-isu ini dari perspektif Injil adalah pada terapi terbaik dan di Pandering hanya terburuk.Khotbah yang generik atau universal dalam karakter dan tidak berjuang untuk berhubungan Firman Tuhan untuk kehidupan yang sebenarnya kita membosankan, tidak relevan, dan memberikan kesan bahwa Tuhan tidak benar-benar peduli tentang apa yang terjadi dalam hidup kita dan dunia.

4. Sebuah Khotbah Yang Baik Adalah Terorganisasi Dengan Baik Dan Mudah Dimengerti

Demikian juga, khotbah yang tidak jelas, kurang terorganisir, atau sulit untuk dipahami adalah tidak efektif.Jika saya tidak bisa mengikuti, maka aku tidak bisa menghargai dan tentunya tidak dapat dipindahkan ke iman dengan itu.Seperti kita semua tahu, jika pesan tersebut tidak jelas dipikirkan dan disajikan, hal itu tidak terlalu penting apa yang dikatakan.

5. Sebuah Khotbah Yang Baik Melibatkan Imajinasi Dari Pendengar

Berkhotbah, kita harus menyadari, berbicara kepada orang secara keseluruhan, dan untuk melakukan itu, kita perlu melibatkan imajinasi pendengar kita.Hal ini tidak hanya kognitif, tetapi juga pengalaman, tidak hanya berkaitan dengan sisi rasional kita, tetapi juga dengan seluruh diri kita-perasaan, keinginan, kebutuhan, hati, jiwa, dan sebagainya.Artinya, Injil lebih daripada berpikir dengan cara tertentu.Salah satu yang paling signifikan wawasan pengkhotbah garis-utama selama dua generasi terakhir adalah bahwa Injil adalah lebih dari perjalanan-kepala.

6. Sebuah Khotbah Yang Baik Disampaikan Dengan Baik

Agar yang terjadi, dua hal perlu dilakukan:Oleh karena itu, harus disampaikan secara efektif sehingga kita dapat mendengar pesan.Untuk memberitakan adalah untuk berkomunikasi.

  • Jika Anda bersemangat, penuh dengan kabar baik, dan berpikir apa yang harus Anda katakan benar-benar adalah berita baik, maka ekspresi wajah Anda, gerak tubuh, dan suara harus menyatakan orang-orang emosi.pendeta harus menyampaikan khotbah dengan efek yang sesuai.
  • Orang harus tahu bahwa Anda percaya apa yang Anda katakan, bahwa Anda memiliki sesuatu yang dipertaruhkan dalam pesan ini, bahwa itu benar untuk Anda, dan hal itu penting.pendeta harus menyampaikan khotbah dengan semangat dan integritas.

7. Khotbah Mengarahkan Pendengar Untuk Hidup Baik Di Dunia Tuhan

Tuhan telah memilih untuk menggunakan manusia berarti-kemampuan dan kesempatan rakyat kita dalam berbagai peran dan dimensi kehidupan mereka sehari-hari-untuk membantu mempertahankan Allah mengasihi dunia begitu banyak.Berkhotbah, sebagai bagian tengah ibadah itu, memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya memberitakan Injil sehingga pendengar dapat datang sekali lagi kepada iman, tetapi juga untuk mengarahkan orang-orang yang sama ke dunia sebagai arena di mana mereka tinggal keluar pemanggilan Kristen untuk menjadi umat Tuhan, dan bahkan mitra Allah, di dunia.ibadah Kristen adalah berkumpulnya umat beriman sehingga mereka dapat diperbaharui dalam iman dan dikirim sekali lagi ke dunia sebagai umat Allah.

Untuk alasan ini, khotbah yang tidak berusaha untuk pendengar berorientasi untuk hidup aktif mereka sebagai umat Allah yang dikirim untuk merawat risiko dunia Allah melahirkan sebuah hati terfokus, bahkan egois versi Kristen yang mengkhianati kasih Tuhan dan komitmen dengan dunia Allah.

Ini garis besar dari tujuh tanda khotbah dapat memberikan pengkhotbah dan pendengar mereka beberapa pedoman untuk berbicara tentang apa yang membuat khotbah yang baik.Waktu berikutnya Anda sedang mendengarkan atau khotbah khotbah, mencari tujuh tanda.

 

  1.  I.      Arti kata

Istilah Homiletika berasal dari kata sifat Yunani “homiletike” yang dihubungkan dengan kata “techne”, jadi “techne homiletike” artinya “ilmu pergaulan”  atau “ilmu bercakap-cakap.” Dalam kata sifat “homiletike” terkandung kata benda “homilia” yaitu “pergaulan (percakapan) dengan ramah tamah.

  1. II.      Definisi Berkhotbah
  • Philips Brook mendefinisikan, “Berkhotbah ialah penyampaian kebenaran oleh manusia kepada manusia.” Di dalamnya terdapat dua unsur penting: kebenaran, dan kepribadian. Tidak satu pun daripadanya dapat dikecualikan (p. 86).
  • Ernest Petry mendefinisikan, “Berkotbah adalah pengaliran kehidupan, penyaringan kebenaran illahi melalui pribadi manusia” (p. 86).
  • Ed webber preaching

    Ed webber preaching (Photo credit: Wikipedia)

    mendefinisikan berkhotbah adalah “Penyampaian Kebenaran Alkitab secara lisan oleh Roh Kudus melalui seorang manusia kepada hadirin tertentu dengan tujuan agar mereka memberikan tanggapan positif”

  • William Evans mendefinisikan berkhotbah sebagai “memberitakan kabar kesukaan, dilakukan oleh seorang manusia dan ditujukan kepada sesamanya.

Dari semua definisi di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa berkhotbah adalah satu aktivitas yang dapat terjadi apabila terdapat empat unsur yang esensi, yaitu :

  1. Penyampai berita (Sender),
  2. Pesan yang diberitakan (Message), dan
  3. Pendengar (Audience)
Di dalamnya Roh Kudus diijinkan untuk bekerja menyatakan kuasa dari kebenaran Firman tersebut.

Ketiga unnsur tersebut akan dibahas dalam tiga dinamika berkhotbah.

Kebenaran yang disampaikan bukan hanya disaring melalui kepribadian, tetapi juga melalui suara atau kata, bahkan gerakan dan isyarat. Hal ini bersesuaian dengan arti kata “berkhotbah” dalam bahasa Indonesia. Kamus Besar bahasa Indonesia mengartikan “berkhotbah” sebagai “berpidato tentang ajaran agama.” “Pidato” sendiri diartikan sebagai ucapan yang tersusun baik-baik yang ditujukan kepada seorang  atau kepada umum.”

  1. III.      Kata-kata asli Perjanjian Baru

 

Tinjauan sekilas kata-kata asli Perjanjian Baru tentang “berkhotbah” ini dipinjam dari uraian Pettry (h. 90,91).

Beberapa kata Yunani menyarankan pendekatan pribadi yang tidak resmi, sedangkan yang lain berbicara mengenai suatu penyampaian berita yang lebih resmi dari mimbar dan tidak terganggu (lebih menyerupai ide modern tentang berkhotbah).

  1. kerusso” berarti “memberitakan sebagai pewarta.” Ini menunjuk kepada pemberitaan secara umum.  Kata ini menunjukkan seorang pewarta yang mengumumkan sesuatu dan seorang utusan yang mewakili negaranya. Kata ini dipakai kurang lebih 60 kali dalam Perjanjian Baru (a.l. Mat 3:1; KPR 8:5; Rom 10:8, 14, 15; 2 Tim 4:2).
  2. euangellio” berarti “memberitakan kabar baik.” Dari kata ini kita memperoleh kata “menginjil, pemberita Injil, dan Injil.” Kata ini dipergunakan kurang lebih 70 kali dalam Perjanjian Baru (a.l. Mat 11:5; Luk 3:18; KPR 5:42).
  3. laleo” berarti “berbicara.” Ide ini adalah pendekatan yang lebih pribadi yang tersirat dalam kata “berbicara / percakapan.” Dipakai lebih dari 250 kali dalam Perjanjian Baru (a.l. KPR 11:19).
  4. martureo” berarti “bersaksi” atau “menjadi saksi.” Kata ini mengandung arti suatu kesaksian yang didasarkan atas keyakinan sejati dan bukti yang terang. Metode ini dipakai lebih dari 70 kali dalam Perjanjian Baru (a.l. Yoh 1:7, 8, 15; KPR 1:8, 5:32; 14:3).
  5. dialegomai” berarti mengadakan dialog / percakapan. Kata “diale,gomai1. discuss, conduct a discussion (Mk 9:34; Ac 19:8f; 20:7; 24:12),—2. speak, preach (18:4; Heb 12:5). Kata ini menyarankan pertukaran pendapat, suatu kesempatan untuk bertanya atau bersaksi terhadap berita yang disampaikan. Di dalamnya terdapat unsure mengajar dan belajar. Kata ini termasuk dalam pokok berkhotbah karena berkaitan dengan menghibau orang untuk menerima berita injil dan diselamatkan. Kata ini hanya terdapat beberapa kali dalam Perjanjian Baru.
  6. katangello” berarti “menceritakan secara menyeluruh dan dengan kewibawaan.” Dua kata lain “plero” dan “peresiazomai” menambahkan kepada pikiran menyeluruh kewibawaan dengan arti masing-masing, yaitu : “memenuhi”, dan “berbicara dengan terus terang dan berani.” Ayat-ayat yang mengandung kata ini terdapat dalam KPR 13:38; 15:36; dan 17:3.
  1. IV.      Panggilan Berkhotbah

 

Donald E. Demaray  mengutip perkataan dari F. B. Meyer yang berbunyi “Allah tidak pernah memberikan pekerjaan kepada hamba-Nya tanpa memperlengkapi mereka dengan segala yang mereka butuhkan.” Firman Tuhan tidak pernah berbicara. Allah memberi dan Allah menolong. Esensi dari tugas mempersiapkan khotbah pada dasarnya  melakukan usaha ilahi. Oleh karena itu kita harus bekerja sama dengan Allah. Inisitif dan tuntunan dari kita tidak mungkin, dan itu adalah fungsi ganda dari Tuhan.

Allah Memanggil Pengkhotbah

Berkhotbah adalah perintah Allah dari mulanya, baik dalam PL dan juga PB. Contoh:

  1. Allah memanggil Musa untuk menyampaikan kepada orang Israel akan bahwa TUHAN akan membebaskan umat-Nya dari kerja pakasa dan dari perbudakan Mesir (Kel 6:5).
  2. Tuhan Yesus memanggil murid-murid untuk memberitakan Injil (Mat 4:18-22; Mark 16: 15)

Perlu dipahami bahwa panggilan menjadi seorang pengkhotbah bukan dari manusia, tetapi dari Allah. Panggilan seorang pengkhotbah adalah inisiatif Allah. Sebelum kita lebih jauh membahas perihal ilmu berkhotbah, marilah kita melihat kepada pernyataan dari pada rasul Paulus dalm Roma 1:1 yang berbunyi: “Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah.” Pernyataan senada dapat kita temukan dalam surat-suratnya yang lain, a.l. 1 Kor 1:1 : “dari Paulus, yang oleh kehendak Allah dipanggil menjadi rasul Kristus Yesus,…”.

Apa makna yang terkandung dari pernyataan Paulus dalam surat-suratnya sebelum memulai pemberitaannya? Maknanya adalah :

  1. Paulus benar-benar menyadari bahwa panggilannya adalah dari Allah
  2. Paulus menerima otoritas pemberitaan (menjadi pengkhotbah adalah dari Allah sendiri.
  3. Paulus mengetahui bahwa panggilannya adalah bertujuan untuk menyapaikan Maksud Allah, dan bukan maksudnya sendiri, dan atau orang lain.

Allah Mengurapi Pengkhotbah

Dalam catatatn Alkitab Perjanjian Baru, dicatat bahwa orang-orang yang terlibat dalam tugas pemberitaan firman terlebih dahulu menerima pengurapan Roh Kudus. Berdasarkan catatan-catatan tersebut, sebelum Allah menugaskan orang-orang tersebut, TUHAN Allah terlebih dahulu mengurapi mereka. Apakah maksud dari pengurapan itu?

  1. Urapan adalah berdasarkan pengurapan Yesus. Yesus memasuki pelayanan setelah ia dipenuhi oleh Roh Kudus. Yesus disebut sebagai “Mesias” yang artimya “seorang yang diurapi.” Pengurapan dating pada saat setelah ia dibaptis. Catatan Lukas 3:21-22 berbunyi : “Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”  Dengan mantap, kita dapat mengikuti kata-kata penting setelah peristiwa baptisan dan pengurapan Roh Kudus itu, Lukas mencatat dalam pasal 3:23 demikian : “Ketika Yesus memulai pekerjaan-Nya…” Kata “memulai” merupakan kata penting dalam nats tersebut. Ini memberikan arti bahwa Yesus hanya memulai tugas pemberitaan firman setelah ia diurapi oleh Roh Kudus. Pengurapan-Nya diumumkan  di tengah-tengah perkumpilan jemaat di Sinagouge di Nazareth melalui pembacaan kitab Suci yang diterimanya. Firman itu berbunyi : “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku.
  2. Urapan Itu adalah merupakan satu tanda pengutusan.  Seorang pengkhotbah haruslah menyadari keberadaan dirinya pada saat ia menerima tugas berkhotbah. Seorang pengkhotbah yang benar adalah seorang yang diutus oleh Allah untuk menyampaikan khabar baik kepada orang-orang yang kepadanya Allah telah mengutus pengkhotbah tersebut. Dengan demikian pengkhotbah tidak menjadi pengkhotbah yang berkhotbah demi dirinya sendiri, keluarganya, dan atau institusi tertentu, tetapi      demi menyatakan maksud dan tujuan Allah kepada umat.
  3. Urapan itu adalah merupakan satu pemberian otoritas.

Setelah Yesus selesai membacakan petikan Firman Tuhan yang terambil dari kitab Yesaya di Sinagoge di Nazareth, Dia pergi ke Kapernaum dan di sana Ia mengajar pada hari Sabat. Mendengar Khotbah (pengajaran) Yesus yang disertai dengan kuasa Ilahi, orang-orang yang mendengar Yesus pada saat itu menjadi takjub. Dan sebagai wujud dari rasa takjub itu, mereka meceritakan akan hal otoritas yang dimiliki Yesus. Sehingga makin tersiarlah berita Injil yang dibawa oleh Yesus kepada orang-orang banyak sejauh berita itu dapat diperdengarkan orang-orang.

Allah Memberi Pewahyuan kepada Pengkhotbah

             Pengurapan Roh Kudus diberikan bukan hanya untuk memberikan otoritas kepada pengkhotbah, tetapi juga pewahyuan. Pewahyuan itu adalah pencerahan di pikiran dan roh yang secara khusus datang kepada setiap orang, dan pada waktunya Allah, cara-Nya Allah, dan tempat yang Allah menentukannya. Terkadang Dia mengadakannya seperti wawasan/pengertian yang meledak yang di dalam psikologi disebut Gestalt, atau seperti bagian-bagian “puzzle” yang datang bersamaan dan pada akhirnya gambar itu menunjukkan dirinya. Pada waktu yang lain bagian-bagian gambar itu mengalir secara berangsur-angsur.

Seorang pengkhotbah tidak akan pernah mengetahui kapan pencerahan dari bagian-bagian firman Tuhan itu akan bertambah besar dan memperkaya satu gambar jika dia mengakhiri secara cepat dalam perenungannya. Kapasitas untuk bertumbuh dalam pencerahan dihasilkan dari kehidupan yang terus menerus di dalam Roh Kudus.

  1. V.      Jati Diri Seorang Pengkhotbah

Hasan Sutanto mengatakan rasa bangga dan tanggung jawab dalam hati seorang pengkhotbah muncul ketika seorang pengkhotbah mengenal jati dirinya. Pengkhotbah membutuhkan rasa percaya diri yang tinggi karena ia selalu berhadapan dengan pendengar dari berbagai latarbelakang, a.l. ekonomi; pendidikan; budaya; dsb. Seorang pengkhotbah kalau tidak bangga kepada panggilan pelayanan dan jabatannya, ia tidak mungkin menjadi seorang pengkhotbah yang sukses (Roma 1:5; 11:13; I Kor 12: 11.      p. 59-60.). Pengkhotbah bangga karena dia dipanggil Allah yang Maha besar untuk melakukan pekerjaan yang teramat penting, , atas dasar II Kor 4:1-2, 5-6. lebih lanjut Hasan Sutanto mengatakan , “Pengkhotbah adalah panutan dalam masyarakat dan gereja, pendamai bagi mereka yang bertengkar, penasehat bagi mereka yang bimbang” (p. 60)

Berikut ini adalah beberapa gambaran jati diri seorang pengkhotbah (p. 60-73)

  1. Seorang  Utusan Injil(Rom 9:1-3; II Kor 10:4,5; Rom 1:21-23)
  2. Seorang Nabi (I Kor 12:10; 13:8; 14:6, 22; I Kor 11:4,5; 13:9; 14:1,3,5).
  3. Seorang Gembala (Yer 2:23,35; 22:13-19; Yes 6: 11-13).
  4. Seorang Pengajar (Yeh 34:1-10; Yoh 10: 13; I Tim 4:15)
  5. Seorang Saksi (Yoh 13:12-15; II Tim 3: 10; Kis 2:22-36; Kis 4: 30).
  1. VI.      Persyaratan Seorang Pengkhotbah
    • Lahir Baru/Hidup Baru (Yoh 3:3) dan senantiasa mempunyai kerinduan yang kuat untuk bertumbuh (Kol 2:7)
    • Mengandalkan kuasa Roh Kudus (Yoh 6:44; Yoh 16:26)
    •  Keyakinan yang kokoh akan Firman Tuhan (Rom 1:16)
    •  Memiliki beban dan bersuka cita dalam pelayanan khotbah (Mark 3:14-15; II Tim 4:2)
    • Memiliki Kesukaan dan disiplin dalam membaca dan menyelidiki serta menerapkan firman Allah (Yos 1:7-8; Yoh 15:7; Mzm 1:2-3).
    •  Setia berdoa dan peka terhadap pimpinan Roh Kudus (Luk 21: 36).
  1. VII.      Kepribadian Seorang Pengkhotbah

Disadur dari buku “Cara Mempersiapkan Khotbah” karya Dr. William Evans.

  1. 1.      Tidak Menjadi Seorang peniru Saja

Setiap orang mempunyai karakteristik tersendiri yang tidak dimiliki oleh orang lain. Dengan kata lain, tidak seorang pun manusia yang hidup di muka bumi ini memiliki karakteristik yang persis sama. Oleh karena itu, setiap orang yang terpanggil untuk berkhotbah janganlan menjadi peniru atas pengkhotbah yang lainnya. Dr. Williams Evans menyatakan :

“kalau orang meniru cara dan adapt kebiasaan para pengkhotbah yang telah beroleh sukses maka yang ditiru kebanyakannya hanyalah kesalahannya saja, bukan kebaikannya; lagipula meniru itu menjadi tertawaan orang. (p. 14-15)

  1. 2.      Seorang pengkhotbah haruslah seorang yang benar-benar mengabdi kepada Tuhan

Di dalam suratnya kepada pengkhotbah muda, Timotius, Rasul Paulus, berkali-kali menganjur supaya menjalani hidup yang suci dan berbakti. Perbedaan besar di antara khotbah-khotbah yang disampaikan oleh para pengkhotbah adalah terletak pada perbedaan budi dari pengkhotbah. Jikalau kita dapat memahami hidup rohani orang-orang ternama, seperti : Spurgeon, Moody, dan atau Finney, tentulah kita akan memahami rahasia pekerjaan pelayanan mereka yang peuh kuasa .

Seorang pengkhotbah yang benar-benar mengabdikan dirinya kepada Tuhan yang memanggilnya menjadi seorang pengkhotbah seharusnyalah menjaga kesucian hidupnya. Firman Tuhan menegaskan sbb: “Menjauhlah, menjauhlah! Keluarlah dari sana! Janganlah engkau kena kepada yang najis! Keluarlah dari tengah-tengahnya, sucikanlah dirimu, hai orang-orang yang mengangkat perkakas rumah TUHAN!” (Yesaya 52:11).

  1. Seorang pengkhotbah haruslah penuh dengan kesungguhan.
  2. Seorang pengkhotbah harus memelihara kesehatan badannya.
  3. Seorang Pengkhotbah berdasarkan I Tim 3 : 1-13
    • Sosial    : Kehidupan yang bersih (ay. 2, 3) dan memiliki nama baik (ay. 7)
    • Moral   : Suami dari seorang Isteri (ay. 2) dan tidak mabuk anggur (ay. 2)
    • Mental : Dihormati (ay. 2) dan mengendalikan diri (ay. 2)dan dapat mengajar orang lain (ay. 2)
    • Pribadi : Lembut (ay. 3); Ramah – memberi tumpangan (ay. 2) dan bukan hamba uang (ay. 3).
    • Rumah tangga : Dapat mengatur keluarga (ay. 2,4,5)

 VIII.      Tugas Seorang Pengkhotbah

Dari penjelasan Perjanjian Baru tersebut di atas, dapatlah kita mengetahui bahwa berkhotbah bukanlah tugas yang mudah, karena di dalamnya terdapat banyak aspek. Pada waktu berkhotbah, seorang pengkhotbah  harus menyadari bahwa :

  1. Ia sedang mengkomunikasikan kebenaran firman Allah kepada pendengarnya,
  2. mengaplikasikan firman yang disampaikan itu kepada situasi riil kehidupan para pendengarnya dimasa kini, dan
  3. mengajak agar para pendengarnya mengambil keputusan dan tekat pribadi untuk “mentaati firman Tuhan”, dan atau menyerahkan hidupnya kepada Tuhan yang empunya firman itu.

H. Sukahar mengaskan pernyataan W.T. Purkiser dalam bukunya “Potret Pendeta” yang berbunyi :

Berkhotbah yang benar-benar menyampaikan firman Allah adalah membawa peristiwa inkarnasi Kristus dalam sejarah tersebut dalam kehidupan saat ini. Penebus yang telah bangkit itumenjadi Kristus yang kontemporer, Tuhan yang hidup, yang berkonfrontasi dengan manusia masa kini dengan panggilan-Nya yang mendesak, “Ikutlah Aku!” Fakta-fakta yang kuno menjadi realistis yang hidup dalam pemberitaan firman yang diurapi oleh Roh Kudus. Melalui pemberitaan firman, Kristus menghakimi, Menyelamatkan, mengajar dan memimpin pendengar pada masa kini sebagaimana Dia telah menghakimi, menyelamatkan, mengajar, dan memimpin mereka yang Dia jumpai di galilea dan Judea, sekitar dua ribu tahun yang lalu (P. 44).

Oleh karena itu, perlu diresponi secara positif bila seseorang bertanya kepada saudara sebagai pengkhotbah. Apa tujuan saudara berkhotbah? Charles W. Koller menjawab sebagai berikut (dikutib dari diktat STTE, Josua suwanto, Homiletika I):

  1. Pada umumnya semua khotbah yang Alkitabiah bertujuan agar pendengar menjadi taat kepada Allah.
  2. Semua khotbah Alkitabiah, melalui hambanya terutama berusaha untuk membawa manusia masuk dalam persekutuan dengan diri-Nya sendiri (1 Yoh 1:3b; I Kor 1:9).
  3. Khotbah harus bertujuan untuk memberitakan seluruh maksud Allah (Kis 20:27), pada setiap tingkat kedewasaan dan pengertian.

Perhatikanlah nats kitab Lukas 4 : 18-19 di bawah ini:

Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”

Berdasarkan nats tersebut dapatlah dirumuskan tujuan yang sebenarnya dari berkhotbah a.l. :

  • Mengumumkan berita Injil
  • Untuk memproklamasikan dengan penuh keyakinan perihal pembebasan dari perbudakan dosa,
  • Untuk menyatakan pengambil-alihan Allah akan hal-hal yang berhubungan dengan masalah pisik, dan juga rohani.
  • Untuk membebaskan mereka yang dikutuk, dan atau yang secara status dianggap sampah masyarakat. Contoh : Zakeus dalam kitab Lukas 19), dan perempuan yang berzinah dalam Yohanes 4,
  • Untuk memberitakan akan adanya rahmat Tuhan bagi setiap orang tanpa terkecuali.

Dengan demikian, perlu diingat bahwa tugas seorang pengkhotbah bukanlah satu tugas yang biasa, tetapi satu tugas yang besar dan bernilai kekal.

IX.      PERSIAPAN SEORANG PENGKHOTBAH

 1. PERSIAPAN ROHANI

  • Ernest Petrry dengan gamblang menyatakan, “Hanya kalau Saudara memelihara kehidupan rohanimu sendiri, Saudara dapat menguatkan orang lain sementara Saudara melayani mereka.”
  • Braga mengawali bukunya dgn satu pernyataan tegas, “Perlu ditandaskan bahwa faktor terpenting dalam persiapan khotbah adalah persiapan hati pengkhotbah itu sendiri.  Tak ada tingkat pengetahuan atau tingkat studi atau bakat-bakat alamiah yg dapat menggantikan hati yg bersungguh, rendah, penuh dedikasi, yang semakin merindukan Kristus.  Hanya orang yg hidup bergaul dgn Allah dan yg hidup dlm kesucian dapat mendorong orang lain utk bertumbuh dalam anugerah dan pengetahuan akan Kristus.

Cukuplah kedua pernyataan di atas untuk mengajar seorang yang bijak, “Betapa pentingnya Persiapan rohani bagi seorang pengkhotbah!”

Dalam hal ini, disarankan kepada setiap pengkhotbah untuk mengembangkan disiplin-disiplin rohani yang telah diuraikan dengan sangat baik oleh Richard J. Foster dalam bukunya yang berjudul, “Tertib Rohani,” yaitu :

  • Disiplin bermeditasi
  • Disiplin berpuasa
  • Disiplin ketulusan hati dan kesederhanaan
  • Disiplin ketundukan
  • Disiplin doa
  • Disiplin belajar
  • Disiplin kesendirian
  • Disiplin pelayanan

2. PERSIAPAN MENTAL

Diktat tentang “berbicara di hadapan umum” mengungkapkan :

  • Tanpa pengetahuan – khotbah menjadi tak berisi ; tanpa kepercayaan kpd diri sendiri–pembicara menjadi gagap dan kurang berwibawa ; tanpa kecakapan – percakapannya seringkali tak teratur dan monoton.”
  • Keberhasilan  seorang pengkhotbah dipengaruhi oleh pengetahuan, kepercayaan kepada diri sendiri dan kecakapan.

Dalam konsep persiapan mental, terkandung saran untuk senantiasa :

  1. Mengembangkan khazana Pengetahuan yaitu: dengan membaca sebanyak-banyaknya.
  2. Menambah kepercayaan diri. Bacalah buku, “berpikir dan Berjiwa besar” karya Dr. D. J. Schwartz, secara kritis dan selektif.

3. PERSIAPAN JASMANI

 Pembicara yang cakap ditandai oleh:

  1. Kelancaran
  2. Sikap yang tenang
  3. Penguasaan Suara
  4. Gerakan tubuh yang teratur
  • Pembicara yg paling cakap adalah mereka  yg memiliki bakat, karunia Roh, dan sekaligus disiplin serta kesempatan utuk berlatih.
  • Akan tetapi, jumlah yang memenuhi kategori ini sangatlah sedikit.

Sebagian besar pengkhotbah harus sungguh-sungguh tekun dalam melatih dirinya agar dapat menjadi pembicara yang cakap.

Hasan sutanto mengutip pernyataan Broadus  seperti berikut ini : “melihat ada hubungan yang erat antara tubuh yang sehat dengan watak, pandangan yang positif, pemikiran yang jelas dan vitalitas jasmani seorang pengkhotbah (p. 119). Oleh sebab itu, seorang pengkhotbah harus mengembangkan pola kehidupan yang seimbang, yaitu antara makan, istirahat, dan berolah raga secara teratur. Contoh : seorang pengkhotbah dalam Alkitab “Pailus.” Meskipun sering menghadapi tekanan dan tantangan yang begitu hebat bahkan membuat ia putus asa (I Kor 4:8-13; II Kor 11:1-7; Gal 1:6), perhatikanlah bagaimana reaksi Paulus dengan situasinya. Ia menyikapinya secara optimis (II Kor 6:3-10; Ef 4: 11-13).

 4. PERSIAPAN SOSIALI

 Berkhotbah adalah komunikasi dengan sesama – komunikasi social. Oleh karena itu persiapan sosiali pun diperlukan, karena :

  • Braga mengingatkan, “Pelayanan yang berhasil menuntut pergaulan yang baik dengan orang lain.  Setiap orang hanyalah satu bagian dari Tubuh Kristus, yaitu gereja, dan kita harus belajar bekerja sama.” Mutiara kebenaran berikut ini mencelikan pentingnya persiapan sosiali, “Seorang yang berjiwa kerdil selalu membangun tembok-tembok permusuhan, tetapi seorang yang berjiwa besar selalu membangun persahabatan.”
  • Pada umumnya, jemaat harus dapat menerima dengan baik diri si pembicara terlebih dahulu, barulah mereka mau mendengarkan apa yang akan dikatakannya dengan penuh keterbukaan dan penghargaan.

TIGA ELEMEN DINAMIKA KHOTBAH

 

Hasan Sutanto mengatakan bahwa tiga elemen dalam dinamika berkhotbah a.l. penafsiran, pesan, dan komunikasi. Ketiga elemen tersebut tidak dapat dipisahkan sebab mempunyai kaitan yang erat dengan yang lain.

“berdasarkan penafsiran, pengkhotbah beroleh pesan yang akan disampaikan melalui khotbah. Melalui komunikasi, pesan disampaikan dengan hidup. Atau sebaliknya, tanpa pesan, khotbah yang sekomunikatif apa pun akan menjadi hampa. Dengan demikian juga ada hubungan erat di antara penafsiran dan komunikasi. Sebab tanpa penafsiran yang memadai, seorang pengkhotbah sulit untuk mengembangkan komunikasi karena kekurangan bahan pembicaraan” (p. 131-132)

Paul J. S. menyatakan hal yang sama dengan bahasa yang dipakai sedikit berbeda tetapi memiliki pengertian yang sama. Ia menegaskan bahwa dalam berkomunikasi dengan teman atau berceramah/berkhotbah terdiri dari tiga elemen dasar, yaitu:

  1. Sipengirim pesan __________________________ (Speaker),
  2. Sipenerima pesan __________________________ (Audience),
  3. Berita / pesan yang dikirimkan / diterima _______  (Message).

Ketiga unsur tersebut menentukan tingkat keefektivan dalam berkomunikasi. Berkhotbah sebagai satu kegiatan untuk mengkomunikasikan berita kebenaran firman Tuhan, tidak dapat dipisahkan dari keadaan ketiga unsur-unsur tersebut. Tubbs dan Moss mengatakan tindakan komunikasi menjadi efektif apabila informasi yang diterima oleh komunikan sama dengan informasi yang dikirimkan komunikator.[1]  Oleh karena itu, sebelum melakukan tugas berkhotbah, seorang pengkhotbah perlu mengetahui batasan-batasan berikut ini:

  1. Speaker : Apa yang perlu kita lakukan sebagai pengirim pesan?
    1. Membatasi topic bahasan kita
    2. Mengetahui sebanyak mungkin topic yang kita bawakan
    3. Memperkaya khotbah dengan ilustrasi-ilustrasi yang tepat,
    4. Menggunakan kata-kata yang komunikatif, yang tepat dengan audience.
  1.  Message : Menyampaikan firman Tuhan
    1. Sampaikan firman Tuhan yang benar-benar kita yakini
    2. Tunjukkan keyakinan kita
    3. Sampaikan khotbah dengan ketulusan hati, anusiasme, dan kesungguhan yang mendalam

Tuhan Yesus berkata: “Dimana hartamu berada, di situ hatimu berada.” Charles R. Brown merefleksikan firman ini dalam kehidupannya sebagai seorang pengkhotbah. “hatinya ada dalam pekerjaannya” (p. 273. Haddon W. Robinson).

  1. Audience : Berkomunikasi dengan penerima pesan
    1. Berbicaralah dengan bahasa pendengar,
    2. Tempatkan diri pada posisi pendengar
    3. Jadikan pendengar kita sebagai orang penting yang benar-benar memerlukan berita itu,
    4. Rendahkan diri kita.

Sebagai seorang pengkhotbah sebelum menyampaikan khotbahnya, sebaiknya menegetahui terlebih dahulu siapa dan bagaimana calon pendengar berita yang akan dikhotbahkannya itu.

Perbedaan Antara Berkhotbah dengan Berpidato

Berkhotbah

Berpidato

1.  Berpangkal pada : Utusan Allah 1. Pendapat dan harapan pribadi pembicara
2.  Isi : Wahyu 2. Pikiran dan teori manusia
3.  Asas : berdasarkan kebenaran Alkitab 3. Asas : Pengetahuan umum manusia
4.  Tujuan : Agar orang yang belum percaya beroleh hidup, sehingga jemaat diteguhkan 4. Tujuan bersifat politis, akademis, cenderung seperti penjual obat, dan sebagainya,

 Keberhasilan dan Kegagalan Berkhotbah

Apabila tujuan berkhotbah tercapai, maka pengkhotbah itu dapat dikatakan. Prinsip dasar keberhasilan dari satu kegiatan berkhotbah adalah apabila pendengar menangkap kesan “Kristus yang Agung,” bukanlah “naskah khotbah,” dan atau “Pengkhotbah.”

Mengapa banyak pendengar tidak tertarik pada khotbah pendetanya? Ada dua alasan mendasar yang melatarbelakanginya :

  1. Kebenaran yang disampaikan tidak realistis.
  2. Isi khotbah sangat kering dan alur pikiran tidak jelas sehingga para pendengar tidak memahami isi pemberitaan. Alasan utama suatu khotbah mengecewakan para pendengar ialah minimnya isi khotbah tersebut. Jadi tolak ukur keberhasilan pengkhtbah sangat tergantung pada respon para pendengar. Khotbah gagal disebabkan oleh karena pengkhotbah tidak memiliki firman Allah, dan tidak berkhotbah sesuai dengan kebutuhan pendengarnya (Note : Jangan berkhotbah hanya untuk menyenangkan hati pendengar, baca : 2 Tim 4:3-4, Yer 10: 21, 12).

LANGKAH-LANGKAH DASAR  PENYUSUNAN KHOTBAH

  1. Mengenal Kebutuhan Jemaat.

-          Doa

-          Informasi

-          Pengamatan

  1. Menentukan Teks Firman Tuhan.

-          Doa

-          Instruksi

-          Direncanakan

  1. Menghidupi Firman Allah.

-          Doa

-          Hafalkan

-          Renungkan

  1. 4.      Menyusun Kerangka Khotbah.

-          Topikal

-          Tekstual

-          Ekspositori

Tabel  Empat Langkah Mempelajari Teks Firman Tuhan

Prinsip khotbah :

  1. Hermeneutik (Menafsirkan Alkitab sebagaimana maksud dari nas).
  2. Kontekstualisasi.
  3. Aplikasi

KLASIFIKASI KHOTBAH

  • Ada banyak pengelompokan khotbah, antara lain :
    • Berdasarkan alur berfikir “analitis / sintesis”
    • Berdasarkan saat-saat khusus penyajian : khotbah perkabungan, khotbah KKR, khotbah kebaktian Rumah Tangga.
    • Berdasarkan fungsi pelayanan firman : khotbah untuk pekabaran Injil, pengajaran doktrin, dsb.
    • Berdasrkan metode penyajian : naratif, biografi, dll.
  • Pengelompokan yang paling umum adalah berdasarkan proposisi dan bagian-bagian, yaitu : khotbah topical, tekstual, dan ekspositori.
  1. Khotbah Topikal

Defenisis Khotbah Topikal adalah :  suatu khotbah yang bagian-bagian utamanya diambil dari Topiknya  atau Pokoknya, lepas dari teks (braga, p. 5).

Maksud dari definisi ini adalah bahwa bagian-bagian utama dari khotbah diambil dari topic atau pokok yang akan disampaikan dalam khotbah. Jadi bagian-bagian utama di ambil dari ide-ide yang terbit dari topic yang sedang akan dikhotbahkan.

Berkhotbah dengan bentuk topical secara implisit memberikan makna kurang Alkitabiah, karena topic yang dikhotbahkan tidak langsung dari nas, tetapi dapat diambil dari topic-topik yang sedang berkembang. Namun dalam kasusu ini, braga menyarankan agar setiap pengkhotbah memulai dengan suatu pokok pembicaraan dari topic yang Alkitabiah. Oleh karena itu, bagian-bagian utama khotbah harus ditunjang oleh sebuah ayat firman Tuhan.

Contoh khotbah topikal tentang “penyembahan,” maka topic tentang penyembahan-lah yang menentukan ide-ide  selanjutnya dalam pengembangan khotbah ini.  Perhatikan contoh berikut ini:

Topik                           :  “IMAN”

NAS Khotbah             : Lukas 17: 5 – 6.

Bagian-bagian Utama Khotbah :

  1. Perlunya Iman (Ibrani 11 : 6)
  2. Sumber Iman (Roma 10: 17)
  3. Kuasa Iman (Mark 11:20-24)

Pemilihan Topik

Sebagai seorang pengkhotbah yang menyuarakan kebenaran Allah dan Firman-Nya, sebaiknya carilah pimpinan-Nya. Pimpinan Tuhan dapat kita menemukannya melalui berdoa, dan membaca firman Tuhan dengan teratur. Pemilihan topic juga dapat ditentukan oleh tema yang diberikan kepada pengkhotbah sebagai pokok khotbahnya, atau acara khusus dimana khotbah akan disampaikan. Bahkan kondisi-kondisi di antara jemaat juga dapat menunjukkan keperluan atau keinginan pemilihan topikyang tepat untuk situasi tersebut.

PRINSIP-PRINSIP DASAR PERSIAPAN

“KERANGKA KHOTBAH TOPIK”

  1. Bagian-bagian utama harus menurut susunan logika dan atau kronologi.
  2. Bagian-bagian utama dapat berupas analisa pokok itu.
  3. Bagian-bagian utama dapat mengemukakan berbagai bukti mengenai pokok itu.
  4. Bagian-bagian utama dapat merupakan penguraian pokok dengan jalan perbandingan atau pertentangan.
  5. Bagian-bagian utama dapat dinyatakan dengan ungkapan Alkitab tertentu yang diulangi sepanjang kerangka itu.
  6. Bagian-bagian utama dapat ditunjang oleh kata atau ungkapan Alkitab yang identik.
  7. Bagian-bagian utama juga dapat terdiri atas penyelidikan kata dengan menunjukkan aneka arti sebuah kata-kata tertentu dalam Alkitab.
  8. Bagian-bagian utama seharusnya tidak ditopang dengan ayat-ayat bukti yang tafsirannya tidak sesuai dengan konteksnya.

Keunggulan Khotbah Topikal

  1. Pengkhotbah dapat mengembangkan berbagai aspek berita Alkitab secara bebas. Batasan pembahasan luas. Materi yang dibahas dapat ditambahkan atau dikurangi atas dasar pertimbangan waktu dan isi khotbah.
  2. Sesuai dengan kebutuhan yang nyata, teristimewa kebutuhan jemaat atas suatu masalah. Melalui khotbah ini, pengkhotbah memberikan solusi yang Alkitabiah untuk memecahkan masalah tersebut.

Kelemahan Khotbah Topikal

  1. Cenderung untuk menggantikan kebenaran Allah dengan pemikiran manusia. Bahkan ada suatu bahaya lain, yaitu kecenderungan “keduniawian,” sehingga penyampaian bersifat pidato, dan bukan khotbah.
  2. kebiasaan dalam penggunaan khotbah ini dapat menimbulkan bias. Contoh : apabila pengkhotbah ahli dalam bidang kemasyarakatan, pengkhotbah cenderung akan membahas masalah masyarakat.
  3. Pengkhotbah tidap perlu untuk meneliti konteks dan penafsiran ayat, mungkin juga tidak meneliti konteks latar belakang historisnya, dan lain sebaginya yang berhubungan dengan teks.
  4. Satu krisis yang lebih penting lagi, pengkhotbah hanya memperalat Alkitab dan bukan membahas Alkitab. Menggunakan sebagai bahan pendukung pandangan pribadi pengkhotbah. Apabila tidak berhati-hati, akan cenderung salah langkah atau bersifat ekstrem.

Khotbah Tekstual.

Definisi Khotbah Tekstual adalah: khotbah yanhg bagian-bagian utamanya diperoleh dari suatu teks yang terdiri atas suatu bagian Alkitab yang pendek. Setiap bagian ini dipakai sebagai garis saran dan teks memberikan tema khotbah itu.

Dari definisi ini, dapat dijelaskan sbb:

  1. Kerangka utama dari khotbah tetap berada dalam batas-batas teks tersebut.
  2. Teks dapat terdiri dari hanya satu ayat, atau seluruh ayat, dan dua atau tiga ayat.
  3. Bagian “utama” yang diambil dari teks “dipakai sebagai suatu garis saran.” Artinya bahwa bagian-bagian utama itu menyarankan hal-hal yang akan dibicarakan dalam khotbah.
  4. Karena pada suatu teks terkadang terdapat banyak kebenaran, maka kebenaran-kebenaran itu dapat dipakai untuk menguraikan pikiran-pikiran yang terdapat dalam kerangka khotbah.
  5. Bagian-bagian tambahan dapt berasal dari teks tersebut, dan dapat juga diambil dari bagian-bagian lain dari Alkitab.
  6. Dalam khotbah tekstual, proses kerja dimulai dari Teks, dan ide utama khotbah di dasarkan pada teks.

Contoh Khotbah Tekstual  :

Teks Sumber  “Ezra 7: 10 : “Sebab Ezra telah bertekat untuk meneliti taurat Tuhan dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel.”

Teks tersebut menekankan pada satu kata “bertekat.” Kata ini dapat diterjemahkan dengan “menetapkan hati.” Dengan demikian kerangka dari khotbah tekstual dari teks ii dapat disusun sbb:

Thema                         : Ketetapan Hati Ezra

  1. Ketetapan Hati Untuk Meneliti Firman Tuhan
    1. Di tengah-tengah Istana Kafir
    2. Dengan Cara Teliti
  1. Ketetapan Hati Untuk Mentaati Firman Allah
    1. Memberikan Ketaatan yang Rela
    2. Memberikan Ketaatan yang Sempurna
    3. Memberikan Ketaatan tanpa Putus-putusnya.
  1. Ketetapan Hati UntukMengajar Firman Tuhan
    1. Dengan Kejelasan
    2. Kepada Umat Allah.

Prinsip-prinsip Dasar Persiapan Kerangka Khotbah Tekstual

  1. Kerangka Tekstual berpusat pada suatu pikiran utama dalam teks dan bagian-bagian utamanya harus diambil dari teks sumber, kemudian mengembangkan dan memperluas tema yang satu itu.
  2. Bagian-bagian utama dapat terdiri atas lebenaran-kebenaran atau prinsip-prinsip yang disarankan oleh teks.
  3. Di dalam satu teks mungkin saja terdapat lebih dari satu tema, atau pikiran yang menonjol, tergantung dari sisi mana kita memandang teks tersebut. Apabila terdapat beberapa tema dala teks, kembangkan satu pokok saja menjadi satu kerangka khotbah.
  4. bagian-bagian utama harus disusun dalam urutan logika dan kronologi.
  5. Kata-kata dalam teks dapat menjadi bagian-bagian utama dari kerangka.
  6. Konteks dari teks harus diselidiki dengan seksama dan dihubungkan dengan teks.
  7. bagian-bagian utama dilandaskan perbandingan, persamaan-persamaan dan atau pertentangan dalam teks.
  8. Dua atau tiga ayat yang diperoleh dari bagian-bagian Alkitab yang berbeda-beda dapaty disatukan dan digarap seperti satu teks.

Keunggulan Khotbah Tekstual

  1. Ayat singkat dan terfokus, sehingga mudah dalam persiapan khotbah. Cara ini sangat baik untuk para pengkhotbah pemula.
  2. Cara ini akan mudah diikuti para pendengar, mudah dimengerti.
  3. Dikhotbahkan ayat per ayat, sehingga pembahasan terfokus pada konteks ayat.

Kelemahan Khotbah Tekstual

  1. Ada saatnya pembagian bagian utama secara berurutan cenderung dipaksakan.
  2. Ada saatnya pengambilan satu ayat atau dua ayat Alkitab tanpa melihat konteksnya. Ini akan menimkbulkan kesalah pahaman, bahkan juga dapat mengalih-tafsirkan kebenaran.
  3. Jika cara ini dipakai terus-menerus akan menimbulkan rasa bosan pendengar.
  4. Ada saatnya satu perikop ayat yang baik, namun sulit dijadikan khotbah tekstual.

Khotbah Ekspositori

Definisi Khotbah Ekspositori adalah : suatu khotbah dimana suatu bagian Alkitab yang pendek atau panjang di-artikan dalam hubungan dengan satu tema atau pokok. Bagian terbesar materi khotbah diambil langsung dari nas Alkitab tersebut dan kerangkanya terdiri dari serangkaian ide-ide yang diuraikan secara bertahap dan berpangkal pada satu ide utama.

Berdasrkan definisi tersebut, khotbah Eskpositori dapat dijelaskan sbb :

  1. Khotbah Ekspositori di-dasarkan pada suatu bagian Alkitab yang pendek atau panjang, dan terfokus pada satu tema atau pokok.
  2. Khotbah ini secara khusus terdiri dari sejumlah ayat dan dari ayat-ayat itulah ditemukan ide pokok khotbah.
  3. Bagian-bagian utama dan bagian-bagian tambahan dari khotbah adalah bersumber dari nas yang akan diuraikan.
  4. Khotbah ekspositori bertujuan untuk menjelaskan arti / kebenaran yang terkandung dalam nast sumber, sehingga kebenaran yang terdapat dalam nas tersebut menjadi jelas dan terang, dalam hubungannya dengan situasi masa kini.

Haddon W. Robinson mengemukakan bahwa khotbah ekspositori merupakan komunikasi atas suatu konsep Alkitabiah yang diperoleh dan disampaikan melalui suatu studi histories, gramatikal, dan kesusasteraan atau suatu perikop dengan konteksnya, yang pertama-tama diterapkan oleh Roh Kudus kepada pribadi pengkhotbah, dan kemudian kepada pendengarnya.

Perbendaan Antara Khotbah Tekstual dengan Khotbah Ekspositori.

Khotbah Tekstual

Khotbah Ekspositori

Teks Alkitab yang pendek, biasanya satu atau dua ayat, bahkan terkadang sebagian dari ayat Teksnya mungkin pendek, atau panjang, dan dapat juga mencakup seluruh pasal atau lebih dari itu.
Bagian-bagian utamanya diambil dari teks kitab, sedangkan bagian-bagian tambahan diambil dari nas lain, di luar teks nas dasar. Bagian-bagian utama dan tambahan semuanya bersumber pada teks kitab yang dijadikan dasar pemberitaan.
Uraian khotbah dijelaskan dapat didukung dengan pernyataan kitab-kitab lainnya. Uraian khotbah seluruhnya dijelaskan secara terperinci tentang suatu bagian tertentu dari kitab dan nas Alkitab itu terjalin dalam seluruh uraian.
Khotbah tekstual ini dapat digarap secara ekspositori.

Contoh Khotbah Ekspositori :

Judul         : Pertarungan Iman yang Baik.

Pokok        : Unsur-unsur yang Berhubungan Dengan Perang Rohani Orang Percaya.

Nas Kitab  : Efesus 6:10-18

  1. Semangat Juang Orang Kristen, ayat 10-14a
  2. Harus tinggi, ayat 10.
  3. Harus tabah, ayat 11-14a.
  1. Perlengkapan Orang Kristen, ayat 14-17.
    1. Harus bersifat defensif, ayat 14-17a.
    2. Harus bersifat ofensif, ayat 17b.

III. Kehidupan Doa orang Kristen, ayat 18.

  1. Harus dengan tekun, ayat 18a.
  2. Harus merupakan doa syafaat, 18b.

Susunan Teknis Suatu Bagian Alkitab.

Mempelajari Alkitab memberi manfaat pada waktu mempersiapkan suatu susunan teknis sebuah bagian Alkitab untuk menentukan strukturnya. Untuk membuat suatu susunan teknis, kita harus

  1. Menuliskan pertanyaan-pertanyaan utama teks itu sedemikian rupa sehingga membuat teks itu sangat berarti bagi kita.
  2. Kita harus membedakan antara induk kalimat dan anak kalimat dengan menulisnya agak masuk ke kanan.
  3. Rangkaian kata-kata, ungkapan-ungkapan, atau anak kalimat harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga kelihatan hubungannya satu dengan yang lainnya.
  4. Kita juga harus mementingkan kata kerja utama, kata-kata atau ide yang penting, termasuk kata-kata penghubung yang penting seperti : sekarang, untuk, dan, tetapi, kemudian, dan oleh sebab itu (braga, p. 51).

 

Prinsip-Prinsip Dasar Persiapan Kerangka Khotbah Ekspositori.

1.  Setiap bagian


[1] Stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss, Human Comunication: Prinsip-prinsip Dasar, (Bandung: Penerbit PT. Remaja Rosdakarya, 2000), p. 22.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Top Posts & Halaman

Top Rated

Oktober 2012
S S R K J S M
« Sep   Des »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 376 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: