Pentingnya Menyadari Mengapa Harus Melayani TUHAN


Kis 26: 12-23

Dikutip dari http://jollyblogger.typepad.com/jollyblogger/2004/08/pastors_as_the__1.html

Dalam buku “Misi dari dalam Krisis” yang diterbitkan oleh Obor Mitra Indonesia, Jakarta 2003, hal 40-44, Bagus Surjantoro menulis dalam artikel berjudul “Alasan untuk Melayani Tuhan”:

“Ada berbagai macam faktor yang melatarbelakangi mengapa seseorang melayani Tuhan. Tetapi faktor paling utama yang mendasari pelayanan yang sejati adalah panggilan Tuhan. Faktor panggilan Tuhan akan menjadikan seseorang hidup untuk melayani, bukan melayani untuk hidup. Karena panggilan itu pula,
seseorang yang mempunyai pengalaman nyata akan kasih karunia Allah dalam hidupnya kemudian akan menjadikan kasih kepada Allah dan sesama sebagai dasar kehidupan dan pelayanannya. Orang yang memiliki motivasi kasih kepada Allah dan sesama inilah yang akan lebih `tahan banting` dalam pelayanan. Paulus
adalah salah satu contoh seseorang yang memiliki panggilan Tuhan yang jelas dalam hidupnya. Itulah yang membuat hidup dan pelayanannya begitu luar biasa di dalam tangan Tuhan dan menjadi berkat bagi banyak orang.

Jika Allah memanggil, Dia tahu siapa yang dipanggil-Nya dan untuk apa. Jika Allah menghendaki kita melakukan sesuatu, Dia tahu bahwa kita sanggup melakukannya dengan anugerah-Nya. Allah kita adalah Allah yang Mahabesar dan Ia sanggup melakukan segala perkara. Dia yang mengatur alam semesta, Dia yang empunya bumi dan segala isinya, laut serta segala yang diam di dalamnya. Kitalah yang sering berpikiran picik dan kerdil, membuat Allah seolah-olah tidak mampu berbuat apa-apa. Kepicikan dan kekerdilan iman yang menjadi penghalang bagi kita sehingga kita tidak mampu melihat kebesaran Allah atas seluruh ciptaan-Nya, termasuk juga atas hidup kita.”

Proposisi : Anda dan saya dipilih Tuhan untuk melayani-Nya.
Kalimat Tanya : Bagaimanakah Anda dan saya dipilih Tuhan untuk melayani-Nya?
Kalimat Peralihan : Fakta-fakta bagaimanakah Anda dan saya dipilih Tuhan untuk melayani-Nya?

Dalam nats ini khususnya ayat. 14-15 Paulus menjelaskan kepada Raja Agripa bagaimana TUHAN memanggilnya : “Kami semua rebah ke tanah dan aku mendengar suatu suara yang mengatakan kepadaku dalam bahasa Ibrani: Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku? Sukar bagimu menendang ke galah rangsang. 15. Tetapi aku menjawab: Siapa Engkau, Tuhan? Kata Tuhan: Akulah Yesus, yang kauaniaya itu.”

Perhatikanlah bagiamana Paulus menyatakan cara TUHAN memilihnya. TUHAN memilihnya bukan karena ia dapat memenuhi standar kebenaran Allah. Coba perhatikan catatan mengenai waktu pemilihan tersebut. Pada waktu itu, Paulus sedang dalam perjalanan ke Damsyk untuk tujuan menganiaya jemaat TUHAN yang ada di sana. Di situlah TUHAN menangkapnya serta menetapkannya menjadi seorang “pelayan-Nya.”

Ditinjau dari waktu, dan proses pemilihan ini, sungguhlah satu perkara yang kontropersial. Bukankah TUHAN yang memilihnya adalah pribadi yang Maha Tahu, Maha Suci, Maha Adil, dan Maha pengasih? Keberadaan-Nya sebagai pribadi yang Maha Adil, mengharuskan TUHAN menghukum Paulus. Namun dalam nats ini Paulus menjelaskan bahwa dalam perjumpaannya dengan TUHAN di jalan menuju ke Damsyk tersebut, TUHAN malah memilih dan menetapkannya menjadi pelayan dan saksi-Nya.
Peristiwa ini menjelaskan kepada kita, bahwa Paulus dipilih bukan karena siapa Paulus. Bukan karena ia memenuhi kriteria seorang pelayan Tuhan, tetapi TUHAN memilih serta menetapkannya menjadi hamba-Nya adalah karena IA sendirilah yang berinisiatif untuk melakukannya. Hal serupa juga terjadi dengan kita di zaman ini. Oleh karena itu, hargailah pilihan dan penetapan TUHAN yang telah menetapkanmu menjadi pelayan-Nya.

Ilustrasi : JIM CAVIEZEL adalah seorang aktor biasa dengan peran-peran kecil. Dan film-film yang dibintanginya juga tidak besar. Peran yang terbaik yang pernah dimainkannya adalah satu film perang dengan judul ”THE THIN RED LINE’. Di situ pun dia hanyalah salah satu peran di antara aktor-aktor besar yang bermain dalam film kolosal itu.
Dalam The Thin Red Line, Jim berperan sebagai prajurit yang berkorban demi menolong teman-temannya yang terluka dan terkepung musuh, ia berlari memancing musuh ke arah yang lain walaupun ia tahu ia akan mati, dan akhirnya musuhpun mengepung dan membunuhnya. Kharisma kebaikan, keramahan, dan rela berkorbannya ini menarik perhatian Mel Gibson, yang sedang mencari aktor yang tepat untuk memerankan konsep film yang sudah lama disimpannya, menunggu orang yang tepat untuk memerankannya.
Akhirnya diadakanlah pertemuan dengan Jim untuk membicarakan tawaran untuk peran itu. Mel kemudian menjelaskan panjang lebar tentang film yang akan dibuatnya. Film tentang Tuhan Yesus yang berbeda dari film2 lain yang pernah dibuat tentang Dia. Mel juga menyatakan bahwa akan sangat sulit dalam memerankan film ini, salah satunya Jim harus belajar bahasa dan dialek aramik, bahasa yang digunakan pada masa itu. Dan Mel kemudian menatap tajam jim, kemudian menegaskan resiko terbesar yang mungkin akan dihadapinya. Katanya bila Jim memerankan film ini, mungkin akan menjadi akhir dari karirnya sebagai aktor di Hollywood.
Dalam kesenyapan menanti keputusan Jim apakah jadi bermain dalam film itu, Jim bertanya pada Mel Gibson: ‘Mel apakah engkau memilihku karena inisial namaku juga sama dengan Jesus Christ (Jim Caviezel), dan umurku sekarang 33 tahun, sama dengan umur Yesus Kristus saat Ia disalibkan?’ Mel menggeleng setengah terperangah, terkejut, menurutnya ini menjadi agak menakutkan. Dia tidak tahu akan hal itu, ataupun terluput dari perhatiannya. Dia memilih Jim murni karena perannya di ‘The Thin Red Line’.

Jim kemudian mengatakan : “Baiklah Mel, aku rasa itu bukan sebuah kebetulan, ini tanda panggilanku, semua orang harus memikul salibnya. Bila ia tidak mau memikulnya maka ia akan hancur tertindih salib itu. Aku tanggung resikonya, mari kita buat film ini!”

Penerapan : Kesadaran akan hal bagaimana TUHAN memilih serta menetapkan menjadi pelayan-Nya memampukan kita untuk melakukan pelayanan itu. Apa pun resikonya, tidak menjadi penghalang yang berarti untuk tetap mengerjakannya sampai tujuan Allah melalui pelayanan tersebut terwujud.

Ketahuilah bahwa Pelayanan tidak dapat dipisahkan dari kesaksian (ay. 16).
Pelayanan Kristen dan kesakasian merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dengan kata lain, jadi kalau pelayanan kita sebut sebagai wadahnya, maka kesaksian adalah isinya. Bayangkanlah seumpama satu wadah tidak dipergunakan, maka wadah itu tinggallah satu wadah yang dipenuhi oleh debu. Demikian juga halnya dengan isi yang berupa sesuatu benda, atau apa pun bentuknya. Tanpa tempat yang baik untuk menampungnya, itu akan berserakan kemana-mana, bahkan bisa rusak hingga menjadi seonggokan sampah.

Pdt. Nathanael Channing, dalam tulisannya dengan tema “BASIC INSTINCT 1 – Hakekat Pelayanan” halaman 1, mengutip pernyataan Luther yang mengatakan “Di sini saya berdiri saya tidak dapat melakukan yang lain, Tuhan tolonglah saya”. Nathanael menegaskan :

“Pelayanan adalah: “Respon atas kasih karunia Allah yang telah menyelamatkan manusia di dalam Yesus Kristus, dengan penyerahan diri sebagai hamba Allah yang diwujudkan melalui persembahan hidup yang kudus dan benar, dedikasi diri dalam memikul salib Kristus untuk menjalankan visi dan misi Allah dalam menyelamatkan umat manusia”

Paulus menyebutkan tujuan TUHAN Yesus memanggilnya adalah agar ia menjadi “pelayan dan saksi.” Kisah Para Rasul 26: 16. berbunyi :”Tetapi sekarang, bangunlah dan berdirilah. Aku menampakkan diri kepadamu untuk menetapkan engkau menjadi pelayan dan saksi tentang segala sesuatu yang telah kaulihat dari pada-Ku dan tentang apa yang akan Kuperlihatkan kepadamu nanti.” Nats ini mengajarkan eratnya hubungan antara pelayanan dan kesaksian. Pelayanan tersebut haruslah bersumber dari apa yang dilihat Paulus dari TUHAN. Nats ini juga mengajarkan bahwa sifat penyataan yang akan TUHAN perlihatkan itu bukanlah sesuatu yang sifatnya hanya pada saat Paulus ditangkap TUHAN menjadi pelayan-Nya. Namun TUHAN masih akan memperlihatkannya kepada Paulus. Hubungannya dengan konteks masa kini adalah hendaklah setiap pelayan TUHAN mendasarkan pelayanannya kepada penyataan Allah. Oleh karenanya, setiap pelayan TUHAN haruslah memiliki hubungan yang intim dengan sang empunya pelayanan itu.

Di dalam Kisah Para Rasul 26: 17-18, rasul Paulus menceritakan tujuan Allah menetapkannya menjadi pelayan dan saksi itu demikian : “Aku akan mengasingkan engkau dari bangsa ini dan dari bangsa-bangsa lain. Dan Aku akan mengutus engkau kepada mereka, untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari dari kuasa Iblis kepada Allah, supaya mereka oleh iman mereka kepada-Ku mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan.”

Tugas yang berat bukan? Namun kita patut mencontoh Paulus. Sekali pun ia tahu resiko dari tugas itu, ia berkata dalam ayat 19 : “Sebab itu, ya raja Agripa, kepada penglihatan yang dari sorga itu tidak pernah aku tidak taat” Di ayat selanjutnya jelas bagi kita apa akibat yang dialami oleh Paulus. Ia menceritakan bukti ketaatannya dalam melayani TUHAN.
Ketaatan Paulus kepada perintah TUHAN dalam menyaksikan imannya yang baru tersebut mengandung resiko yang mengancam nyawanya. Paulus menceritakan : “Tetapi mula-mula aku memberitakan kepada orang-orang Yahudi di Damsyik, di Yerusalem dan di seluruh tanah Yudea, dan juga kepada bangsa-bangsa lain, bahwa mereka harus bertobat dan berbalik kepada Allah serta melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan pertobatan itu. Karena itulah orang-orang Yahudi menangkap aku di Bait Allah, dan mencoba membunuh aku” (Kis 26: 20-21). Di sini nyata bagi kita betapa beratnya resiko yang harus ditanggungnya. Tetapi kita melihat bahwa sekali pun ia harus mengalaminya, ia tetap menjalankannya. Alkitab menjelaskan orang-orang yang hidup dalam ketaatan kepada perintah TUHAN. Mereka sedia membayar harga untuk sebuah ketaatan, seperti Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Namun pada sisi lain, Alkitab juga berbicara tentang ketidaktaatan dan akibatnya, seperti Saul, Yunus dan banyak raja-raja Israel.

Perlu kita mempertanyakan mengapa Paulus tetap taat, sekali pun ia harus mengalami resiko sampai hampir terbunuh? Ketaatan Paulus menentukan seberapa besar jumlah orang yang sadar akan keberadaannya yang berdosa. Ketika seseorang sadar akan keberadaannya yang berdosa, saat itu mata rohaninya mulai terbuka. Dengan demikian ia pun menyadari bahwa ia mebutuhkan sang Juruselamat. Ketaatan Paulus menentukan seberapa besar jumlah orang yang terlepas dari jerat kuasa iblis. Ayat ini menjelaskan bahwa ketika itulah orang itu mengalami pertumbuhan iman untuk mulai berpindah kepada kuaxsa TUHAN Yesus yang mampu memerdekakannya secara sempunya.

Reinhard Bonke mengatakan ” Izinkan saya menceritakan sebuah rahasia kecil: Allah tidak menggunakan orang-orang berbakat khusus. Dia menggunakan orang-orang biasa seperti Anda dan saya untuk menyentuh dunia dengan kekuatan penyembuhan-Nya. Apa yang membuat pelayanan Reinhard Bonke semakin berkembang? Karena di dalam pelayanannya ia menyaksikan YESUS Kristus sebagai TUHAN dan Juru Selamat.

Ilustrasi : Dalam pembuatan film The Passion Of Christ, banyak tantangan dan kesulitan yang harus Jim Caviezel alami. Kadang kala ia tidak sanggup untuk melewatinya. contoh ketika ia harus memikul kayu salib yang ukuranya dan beratnya identik dengan salib Yesus. Waktu kayu tersebut diletakkan di bahunya, ia kaget betapa beratnya kayu tersebut. ketika kayu itu diletakkan di bahunya, bahunya tidak kuat menanggung beratnya beban itu sehingga lepas dari persendian. Akibatnya ia mengerang menahankan sakit tak terperi. bahkan ia sempat mengeluarkan kata-kata kasar karena kurang tanggapnya kru lain melihat apa yang dialaminya. Di sesi yang lain, ketika ia memerankan peristia pencambukan, dagingnya tercabik karena terkena tajamnya cambuk asli yang mengenai kulitnya. Jim menyikapinya dalam kebergantungan kepada TUHAN dalam doa-doanya. Jim dalam kesaksiannya mengatakan :
Akhirnya hanya satu yang bisa saya lakukan, seperti yang Yesus banyak lakukan yaitu lebih banyak berdoa. Memohon tuntunanNya melakukan semua ini. Karena siapalah saya ini memerankan Dia yang begitu besar. Masa lalu saya bukan seorang yang dalam hubungan denganNya. Saya memang lahir dari keluarga Katolik yang taat, kebiasaan-kebiasaan baik dalam keluarga memang terus mengikuti dan menjadi dasar yang baik dalam diri saya.
Dan kini saya telah berada dipuncak peran saya. Benar Tuhan, Engkau yang telah merencanakan semuanya, dan membawaku sampai disini. Engkau yang mengalihkanku dari karir di bola basket, menuntunku menjadi aktor, dan membuatku sampai pada titik ini. Karena Engkau yang telah memilihku, maka apapun yang akan terjadi, terjadilah sesuai kehendakMu.
Singkat cerita, setelah melewati proses demi proses pembuatan film yang sangat sulit, di mana nyawa Jim terkadang harus dipertaruhkan. TUHAN melawat Jim dan semua Crew yang ambil peran di dalam pembuatan film tersebut. Bahkan pemeran prajurit Roma yang adalah seorang muslim setelah adegan tersebut, ia menangis dan menerima Yesus sebagai Tuhannya. Adegan itu begitu menyentuhnya. Itu sungguh luar biasa. Padahal awalnya mereka datang hanya karena untuk panggilan profesi dan pekerjaan saja, demi uang. Namun pengalaman dalam film itu mengubahkan kami semua, pengalaman yang tidak akan terlupakan
Penerapan : TUHAN telah menetapkan Anda dan saya menjadi pelayannya, dengan tujuan agar banyak jiwa mengenal Yesus sebagai TUHAN dan Juruselamat pribadi mereka. Tuhan telah menempatkan kita pada posisi pelayanan yang tepat. Ada yang ditempatkan di sekolah, ada yang TUHAN tempatkan di tempat kerja. Mari layanilah TUHAN dalam kebergantungan kepada DIA yang telah mempercayakan pelayanan itu kepada kita.

TUHAN Pasti membentuk Anda dan saya seturut kehendak-Nya (ay 17-18).

GELANDANG Inggris, Frank Lampard meyakini timnya bisa menjuarai Piala Dunia 2010 kali ini. katanya, Three Lions mempunyai kualitas tim paling mumpuni dan merata. Hanya saja pengharapan untuk menjadi juara bisa jadi mimpi buruk jika mereka dipaksa untuk adu penalti.
Inggris memang selalu bernasib buruk jika dipaksa adu tos-tosan ini. Sejak Piala Dunia 1990, Inggris tersingkir dari lima turnamen (Piala Eropa, dan Piala Dunia) lewat adu penalti. Masing-masing kalah dua kali dari Portugal, dan Jerman, serta sekali dari Argentina. Karena kutukan itulah, sekalipun yakin skuadnya punya potensi besar menjuarai Piala Dunia kedua kalinya, Lampard meminta rekan-rekannya untuk menghapus dulu memori buruk soal adu penalti.

“Harus diakui, adu penalti seolah jadi hantu menakutkan bagi kami. Dan, ini bukan menyangkut soal teknis. Kami semua sudah tahu apa yang harus dilakukan saat mengeksekusi penalti. Ali-alih ini adalah soal mental, dan mungkin menyangkut mengubah kutukan,” ujarnya dikutip dari The Sun, kemarin.
Ia kemudian mengeluh, entah kenapa adu penalti itu seperti kutukan yang tak bisa dihindari. Ia pun berterus-terang, jika saatnya nanti harus ada adu penalti, dan mental para pemain belum ‘digarap’ maka bukan tak mungkin nantinya para pemain justru akan saling menolak untuk jadi juru eksekusi.
“Tak peduli sehebat apapun kita bermain sepanjang 120 menit. Tak peduli setangguh apapun kita bertarung. Namun saat masuk adu penalti, kita akan berujar ‘Oh, kita harus melakukan ini lagi’,” ucapnya sembari mengumpat.
Karena ‘kutukan’ itu sudah terpetakan dalam pikiran, lanjutnya, maka sulit untuk menghindari, dan justru jadi tambahan beban mental. “Ini jadi semacam penyakit yang harus disingkirkan dalam pikiran,” imbuhnya.
Lampard lantas merujuk pada tim Jerman yang dikenal jago dalam urusan adu penalti. “Itulah kenapa Jerman sangat jago adu penalti. Mereka punya sejarah bagus dalam adu penalti. karenanya mereka begitu percaya diri. Sedang kita dinaungi kutukan,” ungkapnya.
Latihan Khusus
Urusan adu penalti ini rupanya jadi perhatian serius pelatih Inggris, Fabio Capello. Pelatih asal Italia ini berjanji akan mengupayakan segala cara agar timnya benar-benar siap menghadapi ‘neraka’ tos-tosan ini di babak knockout nanti.
“Kita selalu melakukan latihan khusus adu penalti setiap kali latihan. Tapi, tentu saja situasinya sangat berbeda. Sangat gampang mencetak gol dari titik penalti saat latihan lantaran tekanannya sangat berbeda dengan di pertandingan sesungguhnya,” ujar Capello dikutip dari Mirrorfootball.com (dikutip dari http://www.tribun-timur.com/read/artikel/101691/Latihan-Khusus-Adu-Penalti).
Perhatikanlah betapa seriusnya para pelatih bola menghadapi Piala dunia beberapa waktu yang lalu.

Pelayanan adalah satu pertarungan yang memerlukan keahlian tinggi.Dr. James D. Kennedy, penulis buku Evangelism Explotion mengadakan pelatihan khusus bagaimana menginjilis yang efektif kepada 3 temannya di Florida. Dr. Kennedy membuat satu analogi hal kesulitan melayankan Injil seumpama menerbangkan sebuah pesawat. Hal tersulit dalam menerbangkan pesawat adalah untuk menentukan saat kapan yang peling tepat untuk lepas landas, dan saat untuk mendaratkannya kembali.

“A Survey done by Christianity Today demonstrated that EE is today the most widely used tool for training pastors and laity for evangelism. EE not only empowers trainees to gain confidence in presenting the Gospel, it enables them to become trainers of other soul-winners, thus setting entire churches on fire for evangelistic outreach to friends and neighbours”. (DR. James Kennedy, Ph. D)

“Pastor Kennedy has recaptured the biblical concept that the church’s primary task is every-member evangelism.’The Church having come to Christ, is to go for Christ’.” (DR. Billy Graham). dikutip dari http://www.pemudakristen.com/news/ee.php.

Sebelum TUHAN benar-benar memakai Paulus sebagai pelayan dan saksi-Nya, rasul Paulus dalam Kisah Para Rasul 26: 17, mengatakan “Aku akan mengasingkan engkau dari bangsa ini dan dari bangsa-bangsa lain. Dan Aku akan mengutus engkau kepada mereka,”

Perkara yang tersulit dalam kehidupan manusia adalah pada saat ia diasingkan dari kelompoknya. Kesepian merupakan musuh terbesar manusia. Namun apabila manusia dapat mengalahkan kesepiannya, maka ia akan dapat menanggung beban hidupnya. Menurut Les Carter, “adalah Kesepian perasaan pemisahan, isolasi, atau jarak dalam hubungan manusia berarti. Kesepian rasa sakit emosional, perasaan kosong, dan kerinduan untuk merasa dimengerti dan diterima oleh seseorang. (dikutip dari Tim Hansel, Melalui padang gurun Kesepian (Elgin, Ill: David C. Cook, 1991), 59-60.) yang dimuat di http://bible.org/seriespage/chapter-17-lessons-loneliness. Namun kita melihat bagaimana TUHAN memanfaatkan kesepian untuk berperkara dengan Paulus.

Hal serupa juga dialami oleh Bruce E. Olson. Dalam bukunya berjudul ”Brucho demi salib ini, Kubunuh Kau” mengisahkan bagaimana pengalamannya bersama dengan TUHAN. Ia adalah seorang muda dengan usia 19 tahun waktu ia harus meninggalkan rumah dan pergi ke pegunungan Amerika Selatan. Ia sadar akan panggilan TUHAN kepadanya. Panggilan itu dia mulai rasakan saat ia masih berusia 14 tahun.

Waktu Bruce menyadari panggilan TUHAN kepadanya, ia mulai mempertanyakan siapakah Tuhannya. Dalam pencarian jawaban atas pertanyaan itu, tidak seorang pun dapat memberikan jawaban yang memuaskan hatinya. Bruce hanya mengenal Tuhan yang diajarkan oleh gereja Lutheran yaitu TUHAN yang keras dan pasti mengadili perbuatan manusia menurut perbuatannya. Bruce juga mengenal Tuhan yang lain dari sekolahnya. Semua ini membuatnya bingung. Dalam pencarian jawaban tersebutia membaca kitab Yohanes dan menemukan TUHAN yang berbeda. Ia menemukan TUHAN yang mempunyai belas kasihan kepada-nya dan kepada jiwa-jiwa yang terhilang. Tuhan menghendakinya melayani di Amerika selatan, yaitu di antara suku Indian Motilone.

Tuhan mengeluarkannya dari lingkungan keluarganya, jauh dari sarana komunikasi modern. Hampir mati dibunuh, dan karena sakit lever yang tidak diobati, namun dibebaskan Tuhan dengan cara yang ajaib. Sesuai dengan waktu TUHAN, Brucho berhasil mengadakan kontak dengan suku Motilone. Melalui pelayanan Brucho yang senantiasa bergantung kepada TUHAN, orang-orang Motilone yang terkenal sebagai suku kanibal, dan ganas takluk kepada Injil Kristus. Dampaknya orang-orang Motilone diubahkan TUHAN. Hal ini menjadi satu bukti yang juga mempengaruhi suku-suku indian di sekitarnya untuk menerima Kristus sebagai TUHAN dan Juruselamatnya.

Penerapan : Pembentukan TUHAN terhadap setiap kita berbeda satu dengan yang lainnya. Namun dalam proses pembentukan itu, setiap orang pasti akan merasakan hal yang tidak mengenakkan. Namun setiap orang yang berhasil melalui proses pembentukan itu pasti akan melihat hasil, dimana TUHAN Turut bekerja. Dan pada akhirnya tujuan Tuhan dalam pemilihannya kepada kita sebagai pelayannya akan tergenapi.

ditulis oleh : Manto Manurung, S.Th.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: