Belajar “LEADERSHIP” dari tokoh Yusuf bagian 4


Ekselensi Yusuf

 

Beberapa artikel dan bahan-bahan tentang kempemimpinan mencatat bahwa  ekselensi seorang pemimpin itu perlu diperhatikan. Seorang pemimpin yang ekselen tidak akan pernah menyerah dalam menghadapi setiap tantangan. Pemimpin yang ekselen tahu mengerjakan setiap tugas dan tanggung jawabnya dengan sangat baik. Pemimpin yang ekselen melihat setiap tantangan sebagai satu peluang untuk mengalami terobosan.

Pemimpin yang ekselen adalah pemimpin yang memutuskan untuk memanfaatkan ekselensi yang TUHAN anugerahkan kepada dirinya.  Artinya, pada dasarnya setiap orang diberikan anugerah menjadi pribadi yang ekselen. Menjadi permasalahannya adalah banyak sekali orang tidak menyadari anugerah yang satu ini. Fakta membuktikan banyak orang yang hidup di luar kriteria seorang pribadi yang ekselen. Dengan demikian, seorang pemimpin dapat menjadi pribadi yang ekselen apabila ia memutuskan untuk memanfaatkan ekselensi tersebut.

Berdasarkan catatan-catatan Alkitab tentang Yusuf, ia adalah pribadi ekselen. Berikut ini adalah data-data yang dicatatkan oleh Alkitab tentang ekselensinya:

  1. Melaksanakan tugas-tugas yang diberikan oleh Yakub.

Yusuf membuktikan ekselensinya dalam setiap tanggung jawab yang dibebankan Yakub kepadanya. Ketika ia menggembalakan kambing domba bersama dengan saudara-saudaranya, ia tidak ikut terlibat dalam kejahatan saudara-saudaranya. Ekselensi Yusuf ini juga terlihat dalam tugas pencarian saudara-saudaranya ke Sikhem. Pada waktu ia tidak menemukan mereka di seluruh daerah Sikhem, ia tidak menyerah, tetapi ia berusaha untuk mencari tahu kepada orang-orang perihal saudara-saudaranya. Pencarian itu berakhir dengan pencarian ke daerah Dotan. Di Dotan ini ia ditangkap oleh saudara-saudaranya dan dibuang ke dalam sumur kering, serta di jual ke Mesir sebagai budak.

Bagi penulis, ekselensi Yusuf bukan hanya berbicara tentang kemampuannya untuk melakukan tugas tanggung jawabnya dengan sangat baik, tetapi juga berbicara tentang kemampuannya untuk melakukan setiap tugas dengan cara yang benar berdasarkan kebenaran TUHAN. Yusuf berhasil dalam melaksanakan kebenaran, dimulai dari lingkungan terkecilnya, yaitu keluarganya, kemudian di lingkungan luar rumahnya (rumah Potifar), di lingkungan penjara, dan kemudian dalam lingkungan kenegaraan. Yusuf di kenal sebagai seorang yang ekselen dan smart karena TUHAN. Yusuf dapat membuktikan TUHAN-lah sumber dari hikmat dan pengetahuan yang dimilikinya selama hidupnya.

  1. Melaksanakan tugas sebagai budak di rumah Potifar.

Yusuf dapat menunjukkan kepada Potifar bahwa penyertaan Tuhanlah yang membuatnya berhasil. Yusuf menunjukkan ekselensinya dalam banyak perkara, sehingga ia menjadi orang kepercayaan dan penguasa atas rumah tuannya.

Yusuf juga menunjukkan ekselensinya dalam bentuk keberaniannya untuk mengerjakan pekerjaan yang ada dalam batasan tanggung jawabnya. Ini terlihat dalam keberaniannya menolak permintaan isteri tuannya untuk bersetubuh. Yusuf  tahu persis bahwa permintaan isteri tuannya itu di luar tanggung jawabnya, dan tidak berkenan di mata  TUHAN Allah.

Antonius Mulyanto dalam salah satu artikel tentang kepemimpinan mengupas pentingnya pemahaman perihal batasan-batasan (bounderis) dari tanggung jawabnya. Yusuf teruji dalam point ini, sekali pun ada kesempatan untuk melewati batasan-batasan tersebut, ia sadar betul apa akibat dari pelanggaran itu.

  1. Melaksanakan Tugas di dalam penjara.

Pada waktu Yusuf memilih untuk bekerja pada batasan-batasan tanggung jawabnya, dia menerima satu konsekuwensi. Ia dipenjarakan oleh tuannya ke dalam rumah tahanan raja. Satu keanehan terjadi di dalam penjara ini. Sekalipun ia adalah pendatang baru, namun Yusuf menjadi orang kepercayaan kepala penjara. Yusuf dipercayakan untuk memegang kunci penjara tahanan raja, bahkan mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan penjara tersebut. Ekselensi Yusuf tidak dapat dipenjarakan oleh dinding-dinding penjara. Ekselensi Yusuf tetap nyata.

Ekselensi Yusuf di dalam penjara ini tidak terlepas dari penyertaan TUHAN. Ada kemungkinan ketika Yusuf dipenjarakan karena pitnahan isteri tuannya, ia sedikit putus asa. Oleh karena itu, TUHAN yang telah menetapkannya untuk melaksanakan misi penyelamatan bangsa pilihannya menjamah hati pemimpin penjara sehingga menaruh rasa sayang kepada Yusuf (band. Kej 39: 21).

Di sini Yusuf  kembali dapat menyatakan penyertaan TUHAN kepada kepala penjara, bahkan kepada orang-orang yang dipenjarakan bersama dirinya. Alkitab mengemukakan, setelah semua tahanan dipercayakan kepada Yusuf, kemudian kepala penjara juga mempercayakan segala pekerjaan yang berhubungan dengan penjara tersebut (band. Kej 39: 22). Mendapat kepercayaan penuh dari kepala penjara membuktikan bahwa Yusuf adalah seorang yang ekselen.

Ekselensi Yusuf ini juga tidak terbatas pada pekerjaan yang berhubungan dengan penjara. Ia juga dapat membuktikan hal kesanggupan TUHAN untuk mengungkapkan hal-hal yang rahasia. Ini berhubungan dengan mimpi kedua pelayan raja, yaitu juru roti dan juru minuman raja. Yusuf sangat peka terhadap pimpinan TUHAN. Yusuf sangat berhati-hati dalam menyaksikan akan kesanggupan TUHAN yang dipercayainya. Menurut penulis, ketepatan arti mimpi yang didapatkannya dari TUHAN adalah bersumber dari hubungannya yang intim dengan TUHAN.

Seorang pemimpin yang percaya kepada TUHAN seharusnya memiliki hubungan yang intim dengan TUHAN. Seorang pemimpin harus memiliki hubungan yang intim dengan TUHAN karena sekali pun ia memiliki banyak pengalaman memimpin, perlu diketahui bahwa masih banyak hal yang merupakan perkara yang rahasia baginya.

Alkitab membuktikan kepada kita, ternyata sekali pun orang-orang yang ditahan bersama dengan Yusuf dan para pelayan itu adalah orang-orang yang terpelajar dan telah memiliki pengalaman lebih dari pada Yusuf, mereka tidak sanggup untuk mengartikan mimpi tersebut dengan tepat (Kej 40:8a). Namun berbeda dengan Yusuf. Yusuf bukan hanya mengandalkan kepintarannya, melainkan mengandalkan hikmat dari TUHAN. Pada waktu kedua pelayan raja itu terlihat gusar karena mimpi itu, Yusuf mengatakan demikian : “Bukankah Allah yang menerangkan arti mimpi? Ceritakanlah kiranya mimpimu kepadaku” (Kej 40: 8b). Pemimpin haruslah mencontoh tindakan Yusuf ketika menghadapi masalah-masalah yang misteri, sebab hanya DIA-lah yang sanggup memberikan jalan keluarnya.

  1. Melaksanakan Tugas pemerintahan.

Yusuf dapat menjalankan tugas-tugas pemerintahan, khususnya pengumpulan gandum selama masa kelimpahan, dan pengelolaan persediaan makanan selama masa kelaparan yang melanda negeri Mesir serta negeri-negeri sekitarnya.

Setelah Yusuf melewatkan hari-hari yang melelahkan dalam tahanan raja, tibalah saatnya bagi Yusuf untuk menyatakan ekselensinya dalam melaksanakan tugas pemerintahan di Mesir. Kesempatan ini betitik tolak dari kegusaran raja Firaun dengan dua mimpinya di waktu tidur. Raja telah menanyakan arti mimpinya kepada orang-orang kenamaan di negeri itu, namun tidak ada seorang pun yang mampu menafsirkannya.

Pada waktu semua ahli nujum dan para ahli tafsir mimpi sudah menyerah, Allah membukakan ingatan juru minuman raja tentang kemampuan Yusuf dalam menafsirkan arti mimpi. Kemudian Yusuf dipanggil dan dimintakan untuk menafsirkan arti mimpi raja itu, dengan cara yang sama. Mendengar kisah dari kedua mimpi raja itu, Yusuf menyikapinya dengan cara yang ekselen.  Yusuf tidak menyombongkan dirinya di hadapan raja. Ia menegaskan, bukan dirinya yang mampu membukakan arti mimpi, melainkan TUHAN (band. Kej 41: 14-16).

Setelah mendengarkan kedua mimpi raja Firaun tersebut, kemudian Yusuf menafsirkan arti mimpi itu, dan kemudian ia mengusulkan cara terbaik untuk mewujudkan arti mimpi tersebut (Kej 41: 25-36). Melihat kemampuan ini, kemudian raja mempercayakan kepadanya untuk melaksanakan tugas yang dimaksudkan dalam mimpinya tersebut. Ia di angkat sebagai penguasa nomor dua di Mesir (Kej 41:37-45).

Berdasarkan catatan Alkitab, Yusuf bekerja dengan sangat baik, ini dapat disebut sebagai satu prestasi kerja yang ekselen. Selama tujuh tahun masa kelimpahan, Yusuf menimbun hasil gandum di lumbung-lumbung yang telah dipersiapkan di setiap kota di negeri itu (Kej 41: 46-49). Yusuf bukan hanya ekselen selama masa kelimpahan tersebut, setelah tiba tujuh tahun masa kelaparan, hasil kerjanya selama masa kelimpahan itu dapat dinikmati oleh seluruh rakyat Mesir, bahkan orang-orang dari luar Mesir pun datang untuk membeli gandum kepadanya, termasuk keluarganya dari tanah Kanaan.

Ekselensi Yusuf menjadiknya seorang penyelamat bagi bangsa Mesir, dan juga cikal bakal bangsa Israel yang dari padanya TUHAN Allah membangkitkan Mesias, yang disebut Yesus Kristus, sang Juru selamat dunia.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: