Belajar “LEADERSHIP” dari tokoh Yusuf bagian 6


 Yusuf seorang Encourager

 

Keberhasilan kepemimpinan ditentukan oleh pemimpin itu sendiri. Ini dihasilkan dari proses perubahan karakter pemimpin ke arah yang semakin memberikan dampak yang dibutuhkan oleh orang-orang yang diharapkannya ada di bawah kepemimpinannya. Perubahan kepemimpinan seseorang lahir dari hati. Ia tidak berfokus pada diri sendiri, tetapi kepada tujuan yang diharapkannya dari orang-orang di sekitarnya. Yesus berkata dalam Matius 7:12: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu demikian juga kepada mereka.” Jika seorang pemimpin ingin mendapatkan dukungan semangat dari orang-orang di sekitarnya, hendaklah ia terlebih dahulu memberikan dorongan semangat kepada orang-orang. Pemimpin yang sejati adalah seorang pemberi semangat.

Mary M. Bauer, penulis artikel “be encourager” mengutip kata-kata bijak Jean Houston yang mengatakan “We all have the extraordinarry coded inside us, waiting to be released.”  Kata-kata bijak ini benar adanya, di dalam diri setiap orang terdapat code-code (inventaris) luarbiasa yang siap untuk dilepaskan ke alam nyata, sehingga dapat bermanfaat bagi diri sendiri dan orang banyak. Inventaris tersebut antara lain talenta berupa kreativitas, keahlian-keahlian khusus, dan lain sebagainya.  Faktanya banyak orang takut untuk merealisasikannya dalam satu bentuk nyata. Hal ini tentunya sangat merugikan dalam satu sitem kepemimpinan. Seorang pemimpin memiliki tugas tanggung jawab untuk mendorong setiap orang di lingkungan kepemimpinannya untuk memiliki keberanian memanfaatkan peralatan-peralatan yang ada dalam inventaris pribadi orang-orang tersebut.Yusuf sebagai seorang Encourager terlihat dalam detik-detik kehidupannya. Alkitab mencatat :

15. Ketika saudara-saudara Yusuf melihat, bahwa ayah mereka telah mati, berkatalah mereka: “Boleh jadi Yusuf akan mendendam kita dan membalaskan sepenuhnya kepada kita segala kejahatan yang telah kita lakukan kepadanya.”  16.  Sebab itu mereka menyuruh menyampaikan pesan ini kepada Yusuf: “Sebelum ayahmu mati, ia telah berpesan:  17. Beginilah harus kamu katakan kepada Yusuf: Ampunilah kiranya kesalahan saudara-saudaramu dan dosa mereka, sebab mereka telah berbuat jahat kepadamu. Maka sekarang, ampunilah kiranya kesalahan yang dibuat hamba-hamba Allah ayahmu.” Lalu menangislah Yusuf, ketika orang berkata demikian kepadanya. 18.  Juga saudara-saudaranya datang sendiri dan sujud di depannya serta berkata: “Kami datang untuk menjadi budakmu.” 19.  Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: “Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah? 20.  Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. 21.  Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga.” Demikianlah ia menghiburkan mereka dan menenangkan hati mereka dengan perkataannya.

Pada nats di atas, dilatar belakangi oleh peristiwa kematian Yakub ayah mereka. Kematian Yakub ternyata menimbulkan satu ketakutan tersendiri dalam diri saudara-saudara Yusuf. Ketakutan seperti ini wajar terjadi kepada setiap orang. Dan kalau ditinjau kembali ke masa lalu kehidupan mereka, sangat lazim bagi Yusuf untuk menghukum mereka. Alkitab mencatat bahwa Yusuf tidak bertindak demikian, tetapi memberikan kata-kata dorongan kepada saudara-saudaranya. Yusuf melihat dari sisi rencana TUHAN untuk menyelamatkan kaum keluarganya dari bahaya kelaparan yang melanda bangsa-bangsa.

Merry mengemukakan “An encourager is someone who knows who you are—the real you, not just the personality. Encouragers know you are already a pretty cool person and there’s nothing you need do but be yourself. And they’ll tell you that.”[i] Yusuf dapat memberikan dorongan semangat kepada saudara-saudaranya, sebab ia menyadari tujuan Allah di dalam hidupnya. Seorang pemimpin yang baik, dapat menjadi seorang penyemangat yang baik dalam kepemimpinannya apabila ia sadar mengapa ia mendapatkan kesempatan menjadi pemimpin dalam komunitasnya.

Paula Kirchner mengemukakan, “Some individuals around us are obviously in need of encouragement, but many hide their struggles behind a smile.[ii] Yusuf peka untuk membaca pesan yang disampaikan oleh orang-orang di sekitarnya.  Kepekaan untuk mengetahui kebutuhan orang-orang di sekitarnya bukanlah satu kemampuan yang muncul secara tiba-tiba. Beberapa penggalan kisah hidupnya menceritakan, Yusuf belajar untuk mendengarkan keluh kesah orang-orang di sekitarnya. Keluh kesah ini merupakan kebutuhan hakiki yang dibutuhkan oleh orang-orang tersebut. Khususnya dalam hal semangat untuk menghadapi persoalan-persoalan yang kompleks.

Pada esensinya, leaders as ancourager mengharuskannya memiliki interpersonal relationship yang baik. Artinya, seorang pemimpin harus mecerminkan sikap layak dipercaya dalam berbagai hal. Inilah kunci untuk dapat menjalankan fungsi ini. Robin Malau dalam satu artikel berjudul “The Art of Work at Life Perspektif Awal Kepemimpinan” menuliskan hasil penemuan dari Morgan McCall dan Michael Lombardo, sebuah ‘cacat fatal’ (fatal flaws) leader yang gagal sebelum dapat mencapai tujuannya, yaitu:

  1. Tidak sensitif pada yang lain;
  2. Dingin dan sombong;
  3. Tidak dapat dipercaya.

Menurut penulis, ini adalah jawaban penting mengapa orang-orang di sekitar Yusuf suka mempercayakan masalah mereka kepadanya. Yusuf memiliki kepekaan kepada orang-orang di sekitarnya, ia dapat, dan layak untuk dipercaya.

 Responsiblity Yusuf

 

Responsibilty adalah kata dalam  bahasa Inggris, berasal dari dua akar kata, yaitu “response”[i] yang artinya “tanggapan, atau reaksi terhadap” dan “ability[ii] yang artinya kecakapan, kemampuan. Jadi “responsibility” adalah kemampuan atau kecakapan seseorang untuk memberikan tanggapan terhadap tuntutan-tuntutan yang dimintakan kepadanya.

Dalam kisah Yusuf, Yusuf  adalah seorang yang responsible. Responsibility Yusuf ii telah penulis bahas sub bab yang berjudul Yusuf sebagai learner. Oleh karena itu, penulis hendak menyoroti responsibility Yusuf dari sisi yang lain, yaitu sisi disiplin pribadi.

Sifat responsible Yusuf tidak terlepas dari disiplin yang diterimanya selama berada dalam pengasuhan dan bimbingan ayahnya. Berdasarkan catatan-catatan hidupnya yang dituliskan oleh penulis kitab Kejadian, ternyata Yusuf menghadapi banyak persoalan. Mengacu kepada komposisi dari persoalan-persoalan yang di hadapinya pada waktu meresponi setiap tugas tanggung jawab yang di bebankan kepadanya, ternyata persoalan-persoalan tersebut dapat saja digunakannya untuk tidak memenuhi tuntutan-tuntutan tugas tanggung jawabnya, namun ia tidak melakukannya. Pertanyaannya adalah mengapa Yusuf tetap teguh untuk memenuhi semua tuntutan tanggung jawabnya?

Kalau kita meneliti kisah tokoh ini, responsibility-nya merupakan satu keputusan pribadinya untuk tetap hidup dalam aturan-aturan kehidupan yang benar di hadapan TUHAN Allah yang diterimanya selama dalam asuhan Yakub ayahnya. Keputusan ini nyata di dalam setiap pengambilan keputusan atas perkara-perkara yang dibebankan kepadanya. Keputusan ini, bukanlah satu keputusan yang sifatnya hanya sekedar wacana semata, dan atau keputusan yang hanya ada pada tingkat emosi sementara. Keputusan ini diambil untuk memenuhi semua tuntutan tugas tanggung jawab tersebut.


[i] Echols, John M., & Shadily, Hassan, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta: PT. Gramedia, 1975), reprinted: Cetakan XIII, Maret 1984.

[ii] Ibid.


[i] Bauer, M. Mary., Be encourager, Copyright 2006.

[ii] Kirchner, Paula., Encourager Coaches: The Little Things We Do Are Very Important!

Celebrate Recovery Encourager Coaches Connection.htm

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: