Belajar “LEADERSHIP” dari tokoh Yusuf bagian 5


 Yusuf Seorang Dreamer

 

“Pada suatu kali bermimpilah Yusuf, lalu mimpinya itu diceritakannya kepada saudara-saudaranya; sebab itulah mereka lebih benci lagi kepadanya” (Kej 37: 5).

Seorang pemimpin dikenal karena kemampuannya untuk bermimpi. Yusuf adalah seorang yang mempunyai mimpi tentang masa depannya. Alkitab mencatat bagaimana Yusuf memimpikan tentang masa depannya dan masa depan saudara-saudaranya. Yusuf mendapatkan mimpi tentang masa depannya hingga dua kali. Berdasarkan mimpi Yusuf itu, nyatalah bahwa kedua mimpinya itu memiliki arti yang sama, yaitu bahwa ia akan menjadi seorang pemimpin.

Menurut Mathews Henry, mimpi Yusuf ini adalah satu mimpi nubuatan.[i] Mimpi itu tidak murni dari diri Yusuf sendiri, tetapi dari TUHAN kepadanya. Mimpi itu datang sampai dua kali. Ini artinya TUHAN Allah hendak menegaskan akan kebenaran mimpi itu. Pada waktu ia menerima mimpi itu, usianya masih tujuh belas tahun, jadi ia masih sangat muda.

Menyikapi mimpi-mimpi yang diterimanya itu, Yusuf sangat senang. Yusuf menerimanya dengan iman (band. Ibrani 11:22). Yusuf yakin akan kebenaran mimpi-mimpi itu. Keyakinan Yusuf ini terlihat dari caranya untuk menyampaikan hal mimpi-mimpinya itu kepada saudara-saudaranya dan kepada bapa serta ibunya (band. Kej 37: 5 – 11). Keyakinan Yusuf ini bukanlah satu keyakinan yang dibuat-buat. Keyakinan Yusuf akan kebenaran mimpi ini adalah satu keyakinan yang bulat.

Jikalau meneliti lebih teliti akan latar belakang hubungan sosialnya dengan saudara-saudaranya, pada waktu itu hubungannya sedang tidak harmonis. Keadaan itu masih tetap berlanjut sampai pada mimpi keduanya. Saudara-saudaranya sedang membencinya karena ketulusan serta kejujuran Yusuf kepada ayah mereka. Namun keadaan itu tidak menghalangi Yusuf menceritakan perihal mimpi itu.

Mimpi dalam bahasa Inggris adalah “dream,” dan dalam bahasa kepemimpinan disebut sebagai “vision.” Menurut kamus Inggris-Indonesia, kata “vision” ini artinya penglihatan, atau daya lihat, dan impian.[ii] Arti yang ketiga ini erat hubungannya dengan masa depan.

Yusuf, pemimpin yang dipersiapkan TUHAN menjadi pemimpin di masa depan tidak menahan visi yang ada padanya. Ia membagikannya kepada orang-orang terdekatnya. Peter M. Senge dalam buku mengemukakan ciri-ciri pemimpin yang ingin oraganisasinya bertumbuh, ia harus berani membagikan visinya kepada orang-orang terdekatnya. Seorang pemimpin haruslah berani untuk membagikan mimpinya kepada orang-orang yang dipimpinnya.

Kriswandaru mendefinisikan visi merupakan suatu mimpi, cita-cita atau bayangan akan masa depan yang hendak dicapai oleh suatu organisasi.[iii]  Menurut penjelasan bapak Tonny Latif dalam kelas Developing Leader with in You, “VISI” pemimpin adalah : Penglihatan ke dalam rencana, tujuan dan maksud Tuhan dalam kehidupan seorang Pemimpin. Jadi visi bukan hanya sekedar mimpi ataupun angan-angan belaka. Visi juga bukan suatu ambisi. Visi yang baik merupakan sesuatu yang bisa dicapai. Kriswandaru[iv] mengemukakan dalam artikelnya perihal apa itu visi yang sebenarnya sebagai berikut ini :

What Vision Does?

  1. 1.      Visi menghubungkan sekarang dengan masa depan

Visi selalu berbicara tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Namun visi dimulai dan dibangun dari sekarang. Ibaratnya seorang arsitek yang hendak membangun sebuah gedung. Langkah awalnya sang arsitek akan mencoba membuat gambaran awal bagaimana bentuk gedung tersebut. Kemudian dia akan mulai membuat fondasinya. Sampai pada akhirnya gedung yang sesuai dengan gambaran awal sang arsitek terbentuk. Gambaran awal itu ibaratnya seperti visi. Pembuatan fondasi seperti langkah awal.

  1. Visi akan memberi kekuatan dan semangat baru
    Orang-orang dalam organisasi akan lebih antusias dan mereka akan lebih bersungguh-sungguh dan memiliki komitmen tinggi untuk bekerja bila ada visi yang jelas. Coba bayangkan dan bandingkan satu organisasi yang tidak memiliki visi dan mereka hanya sekedar “bertahan hidup” saja dengan organisasi yang memiliki visi (tentunya yang relistis). Pasti orang-orang di organisasi yang memiliki visi akan lebih antusias dibandingakn orang-orang di organisasi yang tidak memiliki visi.
  2. Visi memberi rasa bangga
    Visi akan membuat seseorang akan merasa bangga dan lebih berharga. Misalkan suatu organisasi memiliki visi yang bagus, maka orang-orang di organisasi tersebut akan merasa bangga akan organisasinya.
  3. Visi akan memberikan standart atau nilai-nilai baru
    Dengan adanya visi maka akan terbentuk nilai-nilai atau standart-standart yang dibutuhkan untuk mencapa visi tersebut. Sebagai contoh, Anda mempunyai visi untuk menurunkan berat badan. Maka akan timbul beberapa nilai-nilai baru seperti membatasi makan, berolahraga dan sebagainya. Sama halnya dengan visi dalam organisasi.

Jadi visi haruslah sesuatu yang realistik. Dengan demikian visi dapat digambarkan sebagai satu lensa yang powerfull untuk menjalankan kepemimpinan di masa depan.

Para praktisi di bidang kepemimpinan mengemukakan, satu vision dapat menjadi powerfull apabila visi itu dibagikan kepada orang-orang yang ada di sekitar pemimpin. Peter senge mengemukakan: “suatu visi benar bila saya dan Anda memiliki gambaran yang sama dan mempunyai komitmen satu sama lain untuk memilikinya, tidak hanya untuk diri kita masing-masing atau secara individual memilikinya.”[v] Dengan demikian visi itu menjadi jelas bagi setiap orang di sekitar pemimpin tersebut. Kejelasan dan kesamaan visi ini dibutuhkan agar dapat menyusun strategi untuk mencapai tujuan dari visi tersebut.

Ketika Yusuf melihat visi yang telah dibagikannya tidak mendapatkan tanggapan positif dari keluarganya, ia tidak memandang para penentangnya sebagai musuh. Alkitab mencatat bahwa Yusuf tetap menjalankan kehidupannya sebagaimana biasanya (band. Kej 37:12-17). Andy Staley mengatakan : “A vision does not necessarily require immediate action.[vi] Andy Staley memberikan jawaban tentang masalah ini. Mengapa visi itu tidak dengan segera menyatakan keberadaannya. Ini disebabkan karena tiga alasan :

  1. The Vision matures in us,[vii]
  2. We mature in preparation for the vision,[viii]
  3. God is at work behind the scenes preparing the way.[ix]

Satu visi dapat terlihat dalam satu fakta nyata apabila penerima visi dengan setia memelihara visi yang ada padanya hingga visi itu mencapai taraf kematangannya. Visi seorang pemimpin haruslah bertumbuh ke arah pematangan visi itu secara alamiah.

Visi dapat diumpamakan dengan tumbuhan gandum. Tumbuhan gandum berasal dari bijih gandum. Bijih terlebih dahulu ditaruh di dalam tanah. Bijih tersebut dikubur, dan  kita tidak pernah tahu bagaimana proses yang pasti bagaimana bijih itu dapat bertumbuh. Namun yang pasti bahwa di dalam bijih itu ada cikal bakal tumbuhan gandum (visi yang tertanam dalam hati pemimpin). Permasalahannya adalah cikal bakal tanaman gandum yang ada dalam bijih tersebut dapat bertumbuh apabila ia ditaruh dalam wadah yang tepat, dan dirawat dengan baik. Dengan demikian suatu waktu kelak bijih gandum tersebut dapat bertumbuh dengan baik dan pada akhirnya menghasilkan buah-buah gandum yang terbaik. Siapa yang mengerjakan pertumbuhan itu? Dia adalah TUHAN sumber segala kehidupan. Begitu juga dengan visi yang ada dalam hati seorang pemimpin, ia harus dirawat, dan ditumbuh suburkan dalam campur-tangan TUHAN. Yusuf, merupakan contoh teladan bagi pemimpin di sepanjang masa. Ia rela mengikuti proses pematangan visi yang ada padanya.


[i] Alkitab Elektronik e-sword, Hebrew Strong Corcondance, H2492.

[ii] Ibid.

[iv] Ibid.

[v] Senge, Peter M., Disiplin Kelima, Seni dan Praktek Dari Organisasi Pembelajar, hal. 205.

[vi] Diktat Vision Notes from Visioneering by Andy Staley. (Malang, Satya Bakti Malang, 2006), p. 1

[vii] Ibid.

[viii] Ibid.

[ix] Ibid.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: