DIBALIK SEMUA YANG TERJADI, Roma 8:28; 2 Kor 7:11; Ibr 13:21


Dua malaikat yang sedang melakukan perjalanan ke luar kota, singgah di rumah seorang yang kaya raya. Keluarga tersebut kasar dan tidak mengizinkan kedua malaikat tersebut

tidur di dalam rumah mereka yang besar. Sebagai gantinya, mereka menyuruh kedua malaikat tersebut tinggal di gudang bawah tanah mereka yang dingin, kotor tanpa pemanas. Ketika sedang menyiapkan tempat tidur mereka, malaikat yang lebih tua melihat sebuah lubang di dinding, lalu memperbaikinya. Ketika malaikat yang lebih muda bertanya, malaikat yang tua itu menjawab, “Tidak semua hal itu sebagaimana tampaknya.”

Malam berikutnya, kedua malaikat tersebut menginap di sebuah keluarga petani yang miskin, tetapi sangat ramah. Setelah berbagi makanan yang serba sedikit, pasangan petani tersebut mempersilahkan kedua malaikat tersebut tidur di tempat tidur mereka, sedangkan mereka sendiri tidur di lantai. Ketika matahari muncul di ufuk timur keesokan paginya, mereka menemukan pasangan petani tersebut sedang menangis sedih. Ternyata, sapi yang merupakan satu2nya sumber penghidupan mereka, yang memberikan susu setiap pagi, tergeletak mati. Malaikat muda menjadi marah kepada malaikat tua, “Mengapa engkau tega melakukan semua ini kepada mereka? Mengapa engkau membiarkan semua ini terjadi? Kemarin kita mendapat kesempatan untuk menginap di rumah orang kaya raya itu. Kita dibiarkan tidur di gudang yang kotor dan dingin tetapi kau masih membantu mereka memperbaiki dinding yang bolong. Malam ini kita menginap di rumah petani miskin yang begitu ramah dan mau berbagi, tetapi apa yang kau lakukan? Kau biarkan sapi yang satu-satunya sumber hidup mereka mati. Maumu apa sih?” Malaikat tua menjawab dengan singkat, “Tidak semua hal itu sebagaimana tampaknya.” Ketika malaikat muda mendesak untuk dijelaskan, malaikat tua berkata, “Waktu kita menginap di tempat orang kaya kemarin, aku melihat sebuah lubang di dinding. Di dalamnya ada kepingan emas. Tetapi karena orang kaya tersebut sangat tamak, tidak mau berbagi, dan tidak bisa ramah kepada orang lain, maka dinding tersebut kututup. Biar mereka tidak tahu dan tidak dapat mengambil emas tersebut. Lalu malam ini, ketika kita tidur di ranjang Pak Tani, dan mereka mengalah tidur di lantai, malaikat maut datang hendak mengambil isteri Pak Tani. Tetapi aku minta agar ia mengambil sapi Pak Tani saja.”

Tidak semua hal itu seperti bagaimana tampaknya. Terkadang kejadian di sekitar kita juga begitu. Jika kita memiliki iman, kita harus percaya bahwa semua hal merupakan keberun-tungan meskipun kita tidak menyadarinya. Mungkin sesuatu hal itu menyakitkan, tetapi jika kita ada di dalam tanganNya, itu menjadi keberuntungan. Maka tetaplah lakukan yang baik bukan untuk mendapatkan keberuntungan karena ketika kita melakukan yang baik dan benar, keberuntungan telah ada di sana.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: