Dua Bayi Dalam Satu Palungan


Lukas 2:11-12; Yesaya 9:5-6

Tahun 1994 dua orang Amerika diundang oleh Departemen Pendidikan Rusia untuk mengajar moral dan etika berdasarkan Alkitab di sekolah-sekolah dan panti asuhan.

Mereka menceritakan kisah Natal di sebuah panti asuhan. Untuk pertama kalinya anak-anak yatim piatu itu mendengar

(022/365) December 20, 2010: Manger scene acro...

(022/365) December 20, 2010: Manger scene across the street (Photo credit: Jason Alley)

kisah Natal, yaitu perjalanan Maria dan Yusuf  ke Betlehem di mana mereka terpaksa harus menginap di kandang domba. Kemudian datanglah seke-lompok gembala dan orang majus dari Timur untuk menjumpai bayi Yesus yang sedang tidur dalam sebuah palungan dan memberi hadiah kepadaNya. Sepanjang kisah itu diceritakan, baik anak2 maupun pengurus panti mendengarkan dengan khidmat. Untuk menghidupkan suasana malam Natal itu, setiap anak disuruh membuat palungan tempat Yesus dibaringkan.

Demonic and Angry Cow at Nativity

Demonic and Angry Cow at Nativity (Photo credit: Steve Rhode)

Anak-anak itu pun membuat palungannya masing-masing. Suasana hening sejenak. Salah satu dari orang Amerika itu berjalan-jalan dan memperhatikan karya anak-anak itu. Ia tiba di tempat si kecil Jessica, seorang anak yang berusia 6 tahun. Saat melihat palungan yang dibuat oleh si kecil Jessica, ia terheran-heran. Mengapa ada dua bayi dalam satu palungan, bukankah seharusnya hanya ada satu bayi? Ia memanggil penerjemah agar me-nanyakan hal itu kepada Jessica. Sambil melihat palungannya, Jessica kecil mengulang kisah Natal itu dengan lancar. Memasuki bagian di mana Maria meletakkan bayi itu ke dalam palungan, Jessica bercerita dengan kalimat penutup yang dibuatnya sendiri. “Aku hadir di sana saat Maria menaruh Yesus di palungan. Yesus melihat aku dan bertanya apa aku punya tempat tinggal? Aku bilang, aku tak punya mama juga tak punya papa, jadi aku tak punya tempat tinggal sendiri. Yesus bilang aku sih boleh tinggal dengan dia. Tapi aku bilang, tidak bisa, aku kan tidak punya apa-apa yang bisa kuberikan sebagai hadiah, seperti para gembala dan orang majus dari Timur itu. Tapi aku begitu ingin tinggal bersamaNya, aku ingin memberi apa yang aku miliki untuk dijadikan hadiah. Pikirku, kalau aku dapat membantu menghangatkan Dia, itu pasti jadi hadiah yang bagus. Aku bertanya pada Yesus, “Kalau aku menghangatkanMu, cukup tidak itu sebagai hadiah?” Yesus menjawab, “Kalau engkau menghangatkan Aku, itu bakal menjadi hadiah terbaik yang pernah diberikan siapapun kepadaKu.” Kemudian aku masuk dalam palungan itu, lantas Yesus mengajakku tinggal bersamaNya untuk selamanya.”

Jessica berhenti bercerita, matanya berkaca-kaca dan air mata membasahi pipinya. Ke-palanya tertunduk dan seluruh tubuhnya bergetar, ia menangis dan menangis. Yatim piatu yang kecil ini telah menemukan seseorang yang tak akan pernah melupakan dan mening-galkannya, seseorang yang tinggal dan menemaninya untuk selama-lamanya. Sudahkah Anda memberikan hadiah terbaik bagi Yesus yaitu hidup bersamaNya selalu?

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: