Ekspresi Cinta Kasih Ibrani 13:1-2


English: Santa Claus with a little girl Espera...

Sehari sebelum hari Natal tiba, aku pergi ke supermarket untuk membeli beberapa hadiah. Aku mulai menggerutu saat melihat orang banyak yang lalu lalang, “Belanja memang memakan banyak wak-

tu, padahal aku masih harus mengunjungi banyak tempat.” Meskipun demikian, aku berjalan-jalan ke area mainan, di sana aku mulai memprotes harga2 barang yang tinggi. Mengherankan jika anak2 itu bermain dengan mainan yang sangat mahal. Seketika mataku tertuju pada seorang anak laki-laki yang sedang memeluk sebuah boneka. Usianya sekitar 7 tahun. Dia terus membelai rambut boneka itu, tapi wajahnya memancarkan kesedihan. Aku heran untuk siapa boneka itu? Anak laki-laki itu menghampiri seorang wanita tua di sebelahnya dan bertanya, “Oma, oma yakin bahwa uang saya tidak cukup? Wanita tua itu menjawab, “Engkau tidak mempunyai uang yang cukup untuk membeli boneka ini, sayang.” Kemudian si Oma memintanya untuk tinggal sebentar. Sang Oma kembali memilih barang2 yang akan dibeli, sementara anak laki2 itu masih tetap memegang boneka itu.

Jesus on the wall of the senior Home

Aku beranjak mendekati anak itu dan bertanya padanya, “Kepada siapa akan engkau hadiahkan boneka ini?” Jawabnya, “Boneka ini untuk adik yang sangat kusayangi, ia sangat menginginkannya pada hari Natal ini. Ia sangat yakin bahwa Natal ini Santa Claus akan memberikan boneka padanya.” Aku menjawab, “Mungkin saja Santa Claus akan menghadiahkan boneka itu padanya” Ia menjawab dengan sedih, “Tidak, Santa Claus tidak dapat membawa boneka ini padanya. Saya harus memberi boneka ini pada Mama dan Mama akan memberikannya saat pergi ke sana. Adikku telah pergi menghadap Tuhan. Papa mengatakan bahwa Mama juga akan segera pergi untuk menemaninya, jadi aku berpikir mungkin Mama dapat membawa boneka ini dan memberikannya pada adikku.” Aku tersentak, anak itu meman-dangku sambil berkata, “Aku telah meminta Papa untuk menahan Mama, sampai aku kembali dari supermarket.” Ia menunjukkan photonya yang sedang tersenyum dan berkata, “Aku juga mau supaya Mama membawa photo ini, sehingga adikku tidak melupakanku. Aku sayang pada Mama dan aku berharap ia tidak meninggalkan aku, tapi Papa berkata bahwa Mama akan segera pergi untuk menemani adikku.”

Aku membuka dompet dan melihat catatanku kembali. Aku berkata kepada anak itu, “Bagaimana bila kita tanya ke kasir, barangkali saja uangmu cukup?” Jawabnya, “Baiklah, kuharap ini cukup.” Aku menyisipkan sedikit uang tanpa diketahuinya, kemudian kami membayarnya. Dengan sukacita anak kecil itu berkata, “Ternyata uangnya cukup untuk membeli boneka itu. Terima kasih Tuhan, Engkau memberiku uang yang cukup.” Ia menatapku dan berkata, “Kemarin sebelum tidur aku meminta kepada Tuhan untuk membuat uangku cukup untuk membeli boneka ini, ternyata Dia mendengar doaku. Aku juga meminta uang yang cukup untuk membelikan Mamaku mawar putih dan ternyata Dia memberi uang yang cukup untuk membeli boneka dan mawar putih itu. Kau tahu Mamaku sangat menyukai mawar putih.” Beberapa menit kemudian Omanya datang dan aku segera berlalu dengan keranjangku.

Aku tidak dapat melupakan anak itu. Aku teringat akan sebuah artikel yang kubaca di surat kabar sekitar dua hari yang lalu. Surat kabar itu menuliskan tentang seorang pria mabuk yang menabrak sebuah mobil yang di dalamnya ada seorang ibu muda dan gadis kecil. Gadis kecil itu mati di tempat dan ibunya dirawat di ruang gawat darurat. Untuk mempertahankan nyawanya, ibu muda itu dipakaikan mesin2 pembantu. Paramedis meminta keluarganya untuk memutuskan apakah mesin2 pembantu itu akan dilepas, karena ibu muda itu tidak mungkin bangun dari keadaan koma yang dialaminya. Aku berpikir, “Apakah mereka ini adalah keluarga anak laki-laki itu?”

Dua hari setelah kejadian itu, aku membaca di surat kabar bahwa ibu muda itu telah meninggal. Di benakku terbayang-bayang ketika kami membeli seikat mawar putih. Aku pergi ke rumah duka di mana mayatnya dibaringkan di peti mati. Di sana ada seikat mawar putih di tangannya dengan photo anak laki-laki itu, juga sebuah boneka di dadanya. Aku meninggalkan tempat itu dengan tangisan. Hatiku terharu, aku belajar tentang keindahan sebuah cinta kasih yang tulus. Cinta kasih yang diekspresikan anak laki-laki itu terhadap ibu dan adiknya begitu indah dan mengagumkan. Hal itu menjadi pemicu bagiku untuk melakukan tindakan cinta kasih yang tulus kepada sesama manusia.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: