GUBUK SI KAKEK AMSAL 17:21,25


Kakek Yon yang sudah lanjut usia kini harus tinggal di rumah anaknya bersama menantu

dan dua orang cucunya yang masih kecil. Memang diperlukan kesabaran untuk merawat seorang kakek yang sudah agak pikun, rabun dan tidak kuat berjalan. Kakek Yon tidak bisa berjalan sendiri, dia harus dituntun. Kalau tidak, maka dengan segera ia akan jatuh ke lantai. Entah sudah berapa alat-alat dapur yang dipecahkan Kakek Yon karena matanya yang rabun dan tangannya yang gemetar bila memegang sesuatu. Setiap kali duduk di meja makan, pasti terjadi sedikit kekacauan. Piring atau gelas yang jatuh kesenggol tangannya yang gemetar, atau taplak meja yang basah karena sop yang tumpah. Beberapa bulan hal ini masih bisa diterima oleh anak dan menantunya. Tetapi lama-lama anak dan menantu Kakek Yon mulai kesal dan mengomel terhadapnya. Mereka harus melakukan sesuatu. Anak dan menantunya bosan melihat piring yang jatuh, meja yang kotor dan barang-barang lain yang rusak karena Kakek Yon yang sudah rabun itu selalu menyenggol benda-benda di dalam rumah.

Anak dan menantu Kakek Yon merasa sangat direpotkan sehingga akhirnya mereka memutuskan untuk mendirikan sebuah gubuk kecil buat si Kakek di samping rumah mereka yang besar itu. Di situlah Kakek Yon tinggal. Makanan dan minuman akan diantarkan kepadanya dengan memakai piring dan gelas plastik agar tidak pecah. Mereka kini aman dari “gangguan” Kakek Yon. Meja makan selalu bersih, tidak ada piring atau gelas yang pecah. Tidak ada barang-barang yang jatuh ke lantai karena kesenggol Kakek Yon. Di gubuknya, Kakek Yon makan sembari mengelap air mata di pipinya yang sudah keriput. Di malam hari ketika anak dan menantunya hendak berangkat tidur, sayup-sayup mereka mendengar isak tangis dari gubuk si Kakek. Kalau sudah begitu, maka anak dan menantunya akan mengunjungi gubuknya untuk mengomeli dan menyuruhnya berhenti menangis. Kedua cucu Kakek Yon yang masih kecil hanya bisa memandangi setiap kejadian itu dengan diam.

Suatu hari anak dan menantu Kakek Yon berdiri memperhatikan kedua anak mereka yang sedang asyik bermain rumah-rumahan. “Apa yang sedang kalian lakukan?” “Membuat rumah kecil untuk Ayah dan Ibu. Nanti kalau kami sudah besar, kami akan menempatkannya di samping rumah, di mana Ayah dan Ibu membuat gubuk buat Kakek.” Mendengar apa yang dikatakan kedua anak mereka, anak dan menantu Kakek Yon menjadi sedih. Sejak saat itu mereka pergi ke gubuk si Kakek, menggandeng tangannya dan membawanya masuk ke rumah mereka. Mereka makan bersama dan tetap hidup bersama meskipun ada gelas dan piring yang jatuh kesenggol tangan gemetar Kakek Yon. Mereka kini sadar bahwa tangan gemetar itu pula yang telah membesarkan mereka!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: