KISAH KASIH TUHAN, Mazmur 86:5; 89:2, 33; 118:29


Pada suatu pagi, aku duduk menikmati matahari terbit. Aah … keindahan ciptaan Tuhan tidak bisa kujelaskan. Sewaktu aku menyaksikannya, aku memuji Tuhan untuk pekerjaanNya yang indah.

Saat aku duduk di situ, aku merasakan kehadiran Tuhan bersamaku.

Ia bertanya kepadaku, “Apakah engkau mengasihiKu?” Kujawab, “Tentu, Tuhan! Engkaulah Tuhan dan Juruselamatku!” Lalu Ia bertanya, “Bila badanmu cacat, apakah engkau masih tetap akan me-ngasihiKu?” Aku terdiam. Kulihat tangan, kaki dan badanku dan berpikir akan banyak hal yang tak akan dapat kulakukan, banyak hal terpaksa akan kuterima sebagaimana adanya. Lalu kujawab, “Memang akan sulit Tuhan, namun aku masih akan tetap mengasihiMu.”

Kemudian Tuhan berkata, “Bila engkau buta, apakah engkau masih akan tetap mengasihi ciptaanKu?” Bagaimana aku mengasihi sesuatu tanpa dapat melihatnya? Lalu aku terpikir akan orang-orang buta di dunia dan betapa banyak dari mereka yang masih mengasihi Tuhan dan ciptaanNya. Jadi kujawab, “Memang sulit membayangkannya, namun aku masih akan tetap mengasihiMu dan mengasihi ciptaanMu.”

Lalu Tuhan bertanya, “Bila engkau tuli, apakah kau masih akan mendengar kata-kataKu?” Bagaimana mungkin aku mendengar dengan ketulianku? Lalu aku mengerti. Mendengar sabda Tuhan tidak hanya dengan telinga, tapi dengan hati. Aku jawab, “Akan sulit Tuhan, namun aku masih akan tetap mendengar sabdaMu.”

Kemudian Tuhan bertanya, “Bila engkau bisu, apakah kau masih akan tetap memuji namaKu?” Bagaimana mungkin aku memuji tanpa suara? Lalu terpikir olehku: Tuhan menghendaki kita bernyanyi dari hati dan jiwa kita. Tidak peduli bunyinya. Dan memuji Tuhan tidak harus selalu dengan lagu, tetapi bila kita tersiksa, kita cenderung memuji Tuhan dengan sungguh-sungguh. Jadi aku jawab, “Walau tidak bisa bernyanyi dengan mulut, aku masih tetap akan memuji namaMu.”

 

Dan Tuhan bertanya, “Apakah engkau mengasihi  AKU?”  Dengan berani dan yakin, kujawab tegas, “Ya Tuhan! Aku mengasihiMu karena Engkaulah satu-satunya dan Engkaulah Tuhan yang benar!” Ku pikir aku telah menjawab dengan benar, tetapi …

Kemudian Tuhan bertanya, “LALU MENGAPA ENGKAU BERBUAT DOSA?”Aku jawab, “ Karena aku hanyalah manusia. Aku tidak sempurna.”

Lalu Tuhan berkata lagi, “ Mengapa pada saat engkau senang justru engkau menyimpang paling jauh, yaitu di saat2 di mana seharusnya engkau mengasihiku lebih lagi? Tidak ada jawaban dariku. Hanya air mataku yang mengalir.“Apakah engkau benar2 mengasihiku?” tanya Tuhan kembali menegaskan. Aku tidak bisa menjawab. Bagaimana mungkin aku menjawabnya, Ia tahu segala-galanya. Aku benar2 malu. Aku tidak mempunyai alasan. Apakah yang dapat kujawab?

Pada saat hatiku telah tenang dan air mata telah kering, aku berkata, “Maafkanlah aku ya Tuhan. Aku memang tidak layak menjadi anakMu.”

Tuhan menjawab, “Itulah berkatKu, AnakKu.”

Aku bertanya, “Lalu mengapa Engkau tetap memaafkanku? Mengapa Engkau tetap mengasihiku?”

Tuhan menjawab, “Karena engkau adalah ciptaanKu. Engkau adalah anakKu. Aku takkan pernah mengabaikanmu.”

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: