PASANGAN HIDUP SEJATI, Why 14:13; Ams 11:4; 1 Kor 15:50


Suatu waktu, ada seorang pedagang kaya yang mempunyai 4 orang isteri. Dia mencintai isteri yang keempat dan memberinya harta dan kekayaan yang banyak. Sebab dialah yang tercantik di antara semua isterinya. Pria ini sangat bangga dengan isteri ketiganya, dan selalu berusaha untuk memperkenalkannya kepada semua temannya. Ia juga selalu kuatir kalau isterinya ini akan lari dengan pria yang lain. Ia pun sangat menyukai isteri keduanya yang sabar dan pengertian. Bila pedagang ini mendapat masalah, dia selalu meminta pertimbangan isterinya ini. Dialah tempatnya bergantung. Dia selalu menolong dan mendampingi suaminya, melewati masa2 yang sulit. Isteri yang pertama adalah pasangan yang setia. Dia selalu membawa perbaikan bagi kehidupan keluarga ini. Dialah yang merawat dan mengatur semua kekayaan dan usaha sang suami. Akan tetapi sang pedagang tak begitu mencintainya. Walaupun sang isteri pertama ini begitu sayang padanya, namun ia tak begitu mempedulikannya. Suatu ketika sang pedagang sakit dan menyadari bahwa ia akan segera meninggal. Lalu ia meminta semua isterinya datang. Ia bertanya pada isteri keempatnya, “Kaulah yang paling kucintai, kuberikan kau gaun dan perhiasan yang indah. Maukah kau menemaniku?” Isterinya terdiam, lalu menjawab, “Tentu saja tidak,” lalu ia pergi tanpa ber-kata2 lagi. Jawaban itu sangat menyakitkan hatinya. Pedagang itu lalu bertanya pada isteri ketiganya, “Akupun mencintaimu sepenuh hati, dan saat ini hidupku akan berakhir. Maukah kau ikut denganku?” Isterinya menjawab, “Hidup begitu indah di sini. Aku akan menikah lagi jika kau mati.” Sang pedagang begitu terpukul dengan ucapan ini. Lalu, ia bertanya pada isteri keduanya, “Aku selalu berpaling padamu setiap kali mendapat masalah. Dan kau selalu mau membantuku. Kini, aku butuh sekali pertolonganmu. Kalau aku mati, maukah engkau ikut mendampingiku?” Sang isteri menjawab pelan, “Maafkan aku,” ujarnya, “aku tidak bisa menolongmu kali ini. Aku hanya bisa mengantarmu sampai ke liang kubur saja. Nanti kubuatkan makam yang indah buatmu.” Jawaban itu seperti kilat yang menyambar. Sang pedagang merasa putus asa. Tiba2 terdengar sebuah suara, “Aku akan tinggal denganmu. Aku akan ikut ke manapun engkau pergi. Aku tak akan meninggalkanmu, aku akan setia bersamamu.” Sang pedagang menoleh ke samping, dan mendapati isteri pertamanya di sana. Dia tampak begitu kurus seperti orang yang kelaparan. Merasa menyesal, sang pedagang lalu bergumam, “Kalau saja aku bisa merawawatmu lebih baik saat aku mampu, tak akan kau seperti ini, isteriku.” Sesungguhnya kita punya 4 isteri dalam hidup ini. Isteri yang keempat adalah tubuh kita. Seberapapun banyak waktu dan biaya yang kita keluarkan untuk tubuh supaya tampak indah dan gagah, semuanya akan hilang. Ia akan pergi segera kalau kita meninggal. Tak ada keindahan dan kegagahan yang tersisa saat kita menghadapNya. Isteri yang ketiga adalah status sosial dan kekayaan. Saat kita meninggal, semuanya akan pergi kepada yang lain. Mereka akan pindah dan melupakan kita yang pernah memilikinya. Sedangkan isteri yang kedua adalah kerabat dan teman2. Bagaimanapun dekatnya hubungan kita dengan mereka, mereka tak akan bersama kita selamanya. Hanya sampai kuburlah mereka akan menemani kita. Sesungguhnya isteri pertama adalah jiwa dan kebenaran kita. Mungkin kita sering mengabaikan dan melupakannya demi kekayaan dan kesenangan pribadi. Namun sebenarnya hanya jiwa dan kebenaran yang kita lakukanlah yang mampu untuk terus setia dan mendampingi kemanapun kita melangkah. Jika jiwa terpaut kepada Yesus dan kita melakukan perbuatan2 baik dalam kebenaran, maka itu akan mengantar kita ke dalam kehidupan kekal. (Kiriman Sdr. Teguh Prayogo)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: