TAMU ISTIMEWA, Matius 22 : 39; 25 : 31-40


Dari itu Yos bangun lebih pagi karena semalam, antara sadar dan bermimpi ia mendengar dengan jelas suara Tuhan yang berkata, “Yos, besok Aku datang bertamu ke rumahmu.”

Yos percaya suara itu benar2 datang dari Tuhan dan di saat2 menjelang Natal seperti ini Tuhan bisa saja melakukan hal itu. Yos membuka pintu, membersihkan rumah, menyalakan api, dan memasak air. “Aku akan menyiapkan air hangat agar aku bisa menyeduh teh yang enak buat Tuhan nanti.” Demikianlah pikir Yos di dalam hatinya. Selesai itu, dia mandi.

Mulailah Yos menunggu tamu istimewa yang berjanji akan datang ke rumahnya. Tiba-tiba dia mendengar suara ketukan di pintu. “Tok, tok, tok … ” Dia melompat dan membuka pintu dengan harapan bahwa yang mengetok itu adalah Tuhan. Pak pos menyodorkan sebuah surat dari keponakan Yos. “Terima kasih, masuklah sebentar aku akan membuatkan minuman hangat untukmu,” kata Yos seraya mempersilahkan Pak Pos masuk. Dengan tergesa-gesa Pak Pos meminum minuman hangat itu dan pamit untuk melanjutkan pekerjaannya. Kembali memandang ke luar jendela, Yos duduk termenung. “Mana Tuhan yang berjanji akan bertamu ke rumahku?” Kemudian dia melihat seorang anak yang berjalan di depan rumahnya sambil menangis. Yos bertanya, “Mengapa menangis?” “Dari tadi pagi aku belum makan dan aku tidak tahu entah ke mana perginya Ibuku.” Yos menggandeng tangan anak itu, mene-nangkannya dan membawanya masuk ke rumah. Dioleskannya mentega dan coklat pada dua kerat roti dan diberikan kepada anak itu. Kemudian anak itu berpamitan pulang. Yos masih menunggu tamu istimewanya yang belum kunjung tiba ketika seorang tetangganya berteriak-teriak minta diantarkan ke rumah sakit saat itu juga. Ternyata tetangganya itu adalah seorang Ibu yang akan melahirkan tetapi suaminya tidak di rumah. Yos segera menyewa mobil, men-dudukkan Ibu itu di dalam mobil dan mengantarkannya ke rumah sakit. Karena tidak ada seorangpun keluarga Ibu tadi yang muncul, maka Yos menunggu di luar sampai Ibu itu selesai melahirkan. Diselimutinya tubuh Ibu dan bayinya dan kembali ke rumahnya.

Sesampai di rumah, hari sudah gelap dan Yos sedih. Tamu yang ditunggunya tak kun-jung datang. Tiba-tiba ia mendengar suara yang lembut berkata, “Yos, terima kasih untuk minuman hangat yang kau berikan, terima kasih buat sepotong roti yang lezat, terima kasih  kau mau mengantarkanku ke rumah sakit dan menghangatkan diriku dengan selimut. Terima kasih karena Aku telah menjadi tamumu dan engkau telah menyambutKu dengan baik. Selamat Natal!” Yos tahu suara itu, itu suara Tuhan yang didengarnya kemarin malam. Yos kini tahu bahwa apa yang ia lakukan bagi sesamanya ia telah melakukannya untuk Tuhan dan itulah yang Tuhan harapkan dari setiap anak-anakNya; kasih kepada Tuhan dan sesama.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: