True Love


1 Yohanes 4:13-21

Andoy adalah murid kelas 4 SD di Milaor Camarine Sur, Filipina. Jika hendak pergi dan pulang dari sekolah, ia harus menyeberangi jalan raya dan melewati sebuah gereja. Ia selalu mampir ke gereja itu untuk menyapa Tuhan. Tindakannya itu diamati oleh Pastor, yang kemudian bertanya kepadanya, “Apakah kamu sudah pulang sekolah?” “Ya, Bapa!” jawab Andoy sambil tersenyum. Setelah bertanya di mana letak rumahnya, Pastor itu berkata, ”Jangan menyeberang jalan sendirian, saya akan menyeberangkanmu setelah engkau selesai berdoa. Apakah engkau ingin pulang sekarang?” Jawabnya, “Belum Bapa, aku masih ingin menyapa sahabatku.” Pastor itu meninggalkan Andoy. Karena penasaran, ia bersembunyi di balik altar untuk mendengarkan apa yang diucapkan Andoy. “Engkau tahu Tuhan bahwa ujian matematikaku hari ini sangat buruk, tetapi aku tidak mencontek walaupun teman2ku melakukannya. Ayahku mengalami musim paceklik dan yang bisa kumakan hanyalah kue, terima kasih buat kue itu Tuhan. Tadi aku melihat anak kucing malang yang kelaparan dan aku memberikan kueku yang terakhir untuknya. Lihatlah sepatuku, mungkin minggu depan aku harus berjalan tanpa sepatu, karena sepatu ini telah rusak. Tetapi tidak apa-apa, paling tidak aku masih dapat ke sekolah. Beberapa temanku sudah berhenti sekolah, tolong bantu mereka supaya bisa sekolah lagi, tolong ya Tuhan? Oh ya, Engkau tahu ibu memukulku lagi. Ini memang menyakitkan, tapi aku tahu sakit ini akan hilang. Tolong jangan marahi ibuku ya, dia hanya sedang lelah dan kuatir akan kebutuhan kami. Hei, ulang tahunMu tinggal empat hari lagi, apakah Engkau gembira? Tunggu saja sampai harinya tiba Engkau akan melihat, aku punya hadiah untukMu. Aku berharap Engkau akan menyukainya. Oops aku harus pulang sekarang.” Kemudian Andoy segera berdiri dan memanggil Pastor untuk mengantarnya ke seberang jalan. Kegiatan tersebut berlangsung setiap hari.

Prayer

Pada hari Natal, Pastor tersebut jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit. Sementara kepengurusan gereja diserahkan kepada 4 wanita tua yang jarang tersenyum. Mereka sedang berdoa ketika Andoy tiba. Andoy menyapa sahabatnya, “Halo Tuhan, aku …” Tiba-tiba, “Kurang ajar kamu bocah! Tidakkah kamu lihat kami sedang berdoa? Keluar kamu!” Andoy begitu terkejut.”Tapi, aku harus menyapa sahabatku, ini hari ulang tahunNya, aku punya hadiah khusus untukNya.” Belum lagi ia mengeluarkan hadiah tersebut dari dalam kantongnya, salah seorang dari keempat wanita itu menarik tangannya dan mengusirnya ke luar dari gereja. Andoy tidak punya pilihan lain kecuali pulang dan menyeberang jalan sendiri. Perhatiannya tercurah pada  kejadian yang baru dialaminya, tiba-tiba melintas sebuah bus dengan kecepatan tinggi dan menabraknya. Orang2 yang melihat kejadian itu segera berlarian dan mengelilingi tubuh bocah malang itu. Tanpa diketahui dari mana arah datangnya, muncul seorang pria berjubah putih dengan wajah yang lembut, berlinang air mata, kemudian memeluk tubuh mungil itu. Orang2 penasaran dan bertanya, “Maaf Tuan, apakah Anda keluarga anak ini? Apakah Anda mengenalnya? ” Pria tersebut dengan hati yang berduka segera menggendong tubuh Andoy dan berkata, ”Dia adalah sahabatku.” Dia mengambil bungkusan hadiah itu dari saku Andoy dan menyimpannya. Lalu Ia membawa pergi tubuh bocah tersebut.

Saat menerima berita yang menyedihkan itu, Pastor berkunjung dan bercakap-cakap dengan kedua orang tua Andoy, “Bagaimana ceritanya kematian Andoy, putera Anda?” Ayah Andoy bercerita,“Seorang pria berjubah putih mengantarnya pulang, kami tidak mengenalnya namun Dia terlihat sedih sekali. Sepertinya Dia mengenal Andoy dengan baik. Dia menyerahkan anak kami dengan senyuman yang lembut. Dia membisikkan sesuatu ke telinga Andoy, ‘Terima kasih buat hadiahnya, Aku akan segera berjumpa denganmu’. Ketika Dia meninggalkan kami ada suatu kedamaian yang memenuhi hati kami, Aku tidak dapat melukiskan damai itu. Aku tahu puteraku pasti berada di Sorga sekarang. Tolong katakan padaku, siapakah pria yang berbicara dengan puteraku setiap hari di gereja?” Pastor itu merasakan ada air mata menetes di pipinya, dengan haru dia berkata, “Dia tidak berbicara dengan siapa2, kecuali dengan Tuhan.”

Sudahkah kita mempunyai hubungan yang manis dengan Yesus sebagaimana Andoy telah menjalin hubungan yang indah dengan Yesus? Sudahkah kita memperhatikan Yesus sedemikian rupa karena kita katakan kita mengasihiNya?

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: