TUKANG KAYU DAN RUMAHNYA, 2 KOR 5:1-10


Seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi real estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut pada pemilik perusahaan. Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulanannya, tetapi keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama isteri dan keluarganya. Pemilik perusahaan merasa sedih  kehilangan salah seorang  pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon kepada tukang kayu itu untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya. Tukang kayu menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan. Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya. Akhirnya selesailah rumah yang diminta. Hasilnya bukanlah rumah yang baik. Sungguh sayang ia mengakhiri karirnya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan.

Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu. “Ini adalah rumahmu,” katanya, “hadiah dari kami.” Betapa terkejutnya situkang kayu dan betapa malu dan menyesalnya ia. Seandainya ia me-ngetahui bahwa sesungguhnya ia mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tidak terlalu bagus, yaitu rumah hasil karyanya sendiri.

Itulah yang terjadi dalam kehidupan kita. Kadangkala banyak dari kita yang membangun  kehidupannya dengan cara yang asal-asalan. Lebih memilih berusaha ala kadarnya daripada mengupayakan yang  terbaik. Bahkan pada bagian-bagian terpenting dari hidup, kita tidak memberikan yang terbaik. Pada akhir perjalanan kita nanti, janganlah kita terkejut melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri. Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda.

Renungkan bahwa kita adalah situkang kayu. Renungkan rumah yang sedang kita bangun. Setiap hari kita memukul paku, mamasang papan, mendirikan dinding dan atap. Mari kita selesaikan rumah kita dengan sebaik-baiknya. Biarpun kita hanya hidup satu hari, maka dalam satu hari itu kita pantas untuk hidup penuh keagungan dan kejayaan. Hidup kita esok adalah akibat sikap dan pilihan yang kita perbuat hari ini. Hari perhitungan nanti adalah milik Tuhan, bukan kita, karenanya pastikan kita pun akan masuk dalam barisan kemenangan. Selama masih ada waktu yang Tuhan berikan, isilah dengan sesuatu yang berarti untuk masa mendatang, masa yang kekal. Isilah dengan sesuatu yang tidak akan pernah binasa. Hidup adalah proyek yang kita kerjakan sendiri. Kita akan memetik hasil dari apa yang kita lakukan selama kita hidup.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: