YESUS SUNGGUH MENGASIHIMU, Matius 15:32; Yohanes 3:16-17


Pada suatu Minggu siang, yaitu sesudah ibadah pagi berakhir, Pak Pendeta dengan anak laki2nya yang berumur 11 tahun berencana pergi ke kota untuk membagikan traktat. Namun saat itu udara di luar terasa sangat dingin karena hujan menyirami bumi sejak pagi. “Nak … aku tidak ingin pergi dalam cuaca begini,” kata Pak Pendeta. “Tapi Pa, bukankah masih banyak orang yang belum mengenal Yesus dan me-reka akan masuk Neraka? Pa … aku harus pergi, boleh kan?” Pendeta itu ragu sejenak lalu berkata, “Kamu tetap ingin pergi?” Kalau begitu, ini traktat2nya dan hati2 di jalan.” Lalu anak itu pergi menembus hujan.

Ia berjalan di sepanjang jalan2 kota sambil membagikan traktat dari rumah ke rumah. Setiap orang yang ditemuinya diberinya traktat. Dua jam kemudian dia menggigil kedinginan tetapi masih ada satu traktat di tangannya. Ia berhenti di sudut jalan dan mencari orang yang dapat diberinya traktat, tapi jalanan sudah sepi. Lalu ia menuju ke rumah pertama di ujung jalan. Ia berjalan mendekati pintu rumah itu dan memencet bel. Setelah ia memencet bel, tidak ada jawaban dari dalam. Lalu ia memencet bel lagi, tapi tetap tidak ada jawaban. Ditunggunya beberapa saat, masih saja tidak ada  jawaban. Akhirnya, ia memutuskan untuk pergi, tapi ada sesuatu yang mencegah keinginannya untuk pergi, maka sekali lagi, ia menuju pintu, memencet bel dan mengetuk pintu keras2 dengan tangannya. Ia menunggu, ada perasaan kuat yang membuatnya tetap ingin menunggu di depan rumah itu. Dia memencet bel lagi, dan kali ini pintu itu per-lahan2 terbuka.

Nampak seorang wanita berwajah sedih berdiri di depan pintu. Wanita itu dengan pelan bertanya, “Ada apa, Nak? Apa yang bisa kulakukan untukmu?” Dengan mata bersinar-sinar dan tersenyum, si anak berkata, “Ibu, maafkan aku karena mengganggumu, tapi aku hanya ingin mengatakan bahwa Yesus sungguh2 mengasihimu, dan aku datang ke sini  untuk memberikan traktat Injil terakhir yang aku miliki. Traktat Injil ini akan menolong Ibu untuk dapat mengetahui segala sesuatu tentang Yesus dan kasihNya yang besar.”

Anak itu memberikan traktat terakhirnya kepada wanita itu dan ia segera pergi, wanita itu berkata, “Terima kasih, Nak! Tuhan memberkatimu.” Hari Minggu berikutnya, Pak Pendeta, Papa dari anak laki2 tadi berdiri di mimbar dan memulai ibadah dengan pertanyaan, “Adakah yang ingin bersaksi?”

Di baris kursi paling belakang, seorang wanita terlihat perlahan-lahan berdiri. Saat ia mulai bicara, tampak wajahnya berseri-seri dan ia berkata, “Tidak satupun di antara Anda yang mengenal aku. Aku belum pernah ke gereja ini sebelumnya. Hari Minggu yang lalu aku bukanlah seorang Kristen. Suamiku telah meninggal beberapa waktu yang lalu dan meninggalkan aku sendiri di dunia ini.”

“Hari Minggu yang lalu, dinginnya hatiku melebihi dinginnya cuaca dan hujan di luar rumah. Aku merasa tidak sanggup lagi untuk hidup. Lalu aku mengambil tali dan kursi, kemudian naik tangga menuju loteng rumah. Aku mengencangkan ikatan tali kuat2 di palang kayu penopang atap, lalu berdiri di kursi dan mengikatkan ujung tali yang lain di leherku. Aku berdiri di kursi itu dengan hati yang hancur. Saat aku hendak menendang kursi itu, tiba-tiba bel rumahku berbunyi nyaring.”

“Aku menunggu beberapa saat sambil bertanya dalam hati, ‘Siapakah yang membunyikan bel itu?’ Aku menunggu lagi karena bel itu ber-kali2 berbunyi dan semakin lama kedengaran semakin nyaring, apalagi ketika terdengar ketukan pintu. ‘Siapa yang melakukan hal ini?’ Tanyaku dalam hati, tak ada orang yang pernah membunyikan bel rumah dan mengunjungiku. Lalu aku mengendorkan ikatan di leherku dan bel yang berbunyi mengiringi langkahku menuju pintu depan di lantai bawah. Ketika kubuka pintu, aku hampir tidak percaya dengan apa yang aku lihat, karena di teras rumahku berdiri seorang anak laki-laki yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Wajahnya ber-seri2 seperti malaikat dan senyumnya … oh … aku tidak dapat menggambarkannya pada Anda! Dan perkataan yang diucapkannya sungguh menyentuh hatiku yang telah lama beku, ‘Ibu, aku hanya ingin mengatakan bahwa Yesus sungguh2 mengasihimu.’ Lalu ia memberiku traktat Injil yang saat ini kupegang. Saat malaikat kecil itu pergi menembus dinginnya udara dan hujan, aku menutup pintu dan membaca setiap kata dalam traktat Injil ini. Aku kembali ke loteng untuk mengambil tali dan kursi yang akan kupakai untuk bunuh diri, karena aku sudah tidak membutuhkannya lagi. Sekarang aku seorang Anak Raja yang bahagia dan karena ada alamat gereja ini di bagian belakang traktat, maka aku datang ke sini untuk mengucapkan terima kasih pada malaikat kecil yg datang tepat pada waktu aku membutuhkannya. Tindakannya telah menyelamatkan jiwaku dari hukuman Neraka yang kekal.”

Seluruh jemaat di gereja itu meneteskan air mata. Pak Pendeta turun dari mimbar dan pergi menuju ke bangku di barisan depan, tempat di mana “malaikat kecil” itu duduk. Pak Pendeta itu menangis tak tertahankan dalam pelukan anaknya. (Terj. dari. “Jesus Really Does Love You”, Penulis unknown).

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: