Belajar nilai kehidupan dari Tokoh Yusuf


Nilai adalah sesuatu yang berguna dan baik yang dicita-citakan dan dianggap penting oleh masyarakat .

Nilai atau dalam bahasa Inggris disebut value berarti harga, penghargaan, atau tafsiran. Artinya, harga atau penghargaan yang melekat pada sebuah objek. Objek yang dimaksud adalah berbentuk benda, barang, keadaan, perbuatan, atau perilaku.

Nilai adalah sesuatu yang abstrak, bukan konkret. Nilai hanya bisa dipikirkan, dipahami, dan dihayati. Nilai juga berkaitan dengan cita-cita, harapan, keyakinan, dan hal-hal yang bersifat batiniah.

Nilai atau value adalah ukuran [pada diri seseorang] tentang sesuatu [sikap, kata, situasi, dan lain lain] yang dapat [dan selalu atau sering kali] mempengaruhi perilakunya. Nilai selalu mempunyai kaitan dengan norma atau petunjuk-petunjuk agar mempunyai hidup serta berperilaku yang baik. Norma biasanya tidak tertulis namun berlaku dan disetujui secara umum.

Jadi, nilai-nilai hidup dan kehidupan merupakan keseluruhan tampilan diri, sikap, kata, perbuatan manusia sesuai sikonnya.

Nilai-nilai hidup dan kehidupan manusia biasanya dipengaruhi oleh masukan-masukan dari luar dirinya sejak kecil. Hal-hal tersebut, antara lain,

  • agama atau ajaran-ajaran agama, biasanya bersifat mutlak; artinya tertanam dan berakarnya nilai-nilai dalam diri seseorang, yang kadang telah menjadi prinsip hidupnya, merupakan akibat dari pemahaman keagamaan yang kuat dan mendalam; dan seringkali ia tidak bisa menjelaskan alasan-alasan mempunyai prinsip [yang mungkin orang lain menganggap sebagai suatu kekakuan], namun karena imanya, ia tetap pada pendiriannya
  • norma ataupun kebiasaan yang berlaku dalam komunitas; norma-norma yang berlaku pada suatu komunitas biasanya bersifat warisan bersama; artinya semua anggota komunitas menyetujui dan mempraktekkannya. Karena merupakan warisan bersama, maka hal itu terus-menerus diturunkan kepada generasi berikut; dan bisa dipakai sebagai salah satu indentits bersama pada komunitas tersebut; dengan demikian, sampai kapan atau dimana pun ia berada, maka selalu mempertahankan nilai-nilai tersebut
  • pendidikan formal dan informal, disiplin, latihan, bimbingan orang tua maupun guru; semuanya itu merupakan penanaman nilai-nilai yang dilakukan sejak dini oleh orang dewasa ke dalam diri seseorang atau anak-anaknya. Proses penanaman itu dilakukan secara sengaja maupun tidak, dengan tujuan tertanam niali-nilai luhur, baik, dan benar, yang menjadikan seseorang, dapat diterima oleh sesamanya
  • interaksi sosial yang membawa perubahan pikiran dan tujuan mengungkapkan kata serta melakukan tindakan
  • pengalaman serta wawasan yang didapat karena adanya interaksi dengan orang lain serta keterbukaan menyerap hal-hal baru

Kisah John Lennon

Ada banyak pelajaran berharga dari tokoh dunia yang melegenda; salah satu kisah yang sangat terkenal adalah kisah hidup sang legenda musik dunia “John Lennon“

Ketika John Lennon ditembak di New York tahun 1980,  mantan personel The Beatles itu mewariskan kekayaan berupa uang US$ 550 jt + lagu Imagine,

Lagu Love and Peace tersebut yang diwariskan bagi dunia.
Itu yang luar biasa dari luar,
Namun majalah Time berhasil mewancarai Julian, putra John Lennon yang berkata jujur tentang sang ayah.

“Satu-satunya yang diajarkan dan diwariskan ayah kepada saya adalah bagaimana caranya TIDAK menjadi seorang ayah yang baik. Pandang saya, Ayah adalah orang yang munafik!!”  Ucap julian

Boleh saja dia mengagungkan Perdamaian dan Cinta ke seluruh dunia,
tapi ia tidak pernah menunjukkannya kepada orang yang seharusnya paling berarti baginya, yaitu isteri dan putranya.

Bagaimana Anda bisa berbicara tentang perdamaian dan cinta,
namun memiliki keluarga yang tercerai-berai dan tidak ada komunikasi?

Nilai-nilai hidup Yusuf dan Maria

Bulan ini kita disibukkan dengan satu moment penting dalam kehidupan orang Kristen di seluruh dunia, yaitu Natal.

Natal sering kali diidentikkan dengan satu moment celebration. Sehingga orang-orang percaya disibukkan dengan berbagai kesibukan untuk menyambut hari Natal tersebut.

Dampaknya banyak uang yang dihabiskan, banyak materi-materi di alam ini yang dipergunakan untuk memeriahkan moment natal tersebut.

Di sisi lain, orang percaya lupa kepada esensi dasar dari natal itu sendiri.

Oleh karena itu, saya mengajak kaum muda di tempat ini untuk belajar nilai-nilai kehidupan dari tokoh Yusuf.

Yusuf adalah seorang yang tulus Hati

Mat 1:19  “Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.”

Ada beberapa penafsiran tentang “ketulusan hati” Yusuf (dikutip dari http://m.hidupkatolik.com/index.php/2012/07/17/ketulusan-hati-yusuf.)

  1. Pertama, Yusuf disebut “tulus hati” dalam arti taat kepada hukum. Menurut penafsiran ini, Yusuf percaya, Maria melakukan perzinahan atau selingkuh. Menurut Hukum Musa (Ul 22:20-21), seorang gadis yang tertangkap basah berzinah harus dikeluarkan dari rumah ayahnya dan dirajam sampai mati. Karena Yusuf tulus hati, artinya mematuhi hukum, maka ia memutuskan untuk menceraikan Maria. Penafsiran ini kurang bisa diterima karena hukum Musa memerintahkan untuk menceraikan gadis seperti itu secara terang-terangan, sedangkan Yusuf akan menceraikannya secara diam-diam.

  2. Kedua, “tulus hati” diartikan sebagai baik hati. Kebaikan hati Yusuf justru tampak dalam rencananya untuk menceraikan Maria secara diam-diam. Penafsiran ini juga mengandaikan bahwa Yusuf percaya Maria melakukan perselingkuhan. Jika Maria diceraikan secara terang-terangan, Maria harus menghadapi konsekuensi hukum lainnya baik dari masyarakat maupun dari keluarga besarnya. Semua itu pasti akan membuat Maria menderita. Penafsiran ini juga tidak bisa diterima karena “tulus hati” tidak sama dengan baik hati. Injil Matius menyebut Yusuf sebagai “tulus hati” (Mat 1:19), bukan baik hati.

  3. Ketiga, kedua penafsiran di atas tidak memberikan jawaban yang tuntas mengapa Yusuf ingin menceraikan Maria. Penafsiran yang ketiga memperhitungkan situasi dan keadaan sekitar, sehingga lebih bisa diterima. Bertitik-tolak dari Mat 1:18, ada tiga fakta yang harus dipegang: Maria bertunangan dengan Yusuf; Maria belum hidup sebagai suami-istri; Maria hamil dari Roh Kudus.

  4. Keempat, dengan tiga penafsiran di atas, maka ungkapan “tulus hati” berarti mengikuti kehendak Allah yang dinyatakan dalam Sabda-Nya. Yusuf adalah pribadi yang menghormati karya Allah dan taat pada rencana-Nya. Hal inilah yang justru membuat Yusuf ragu, apakah akan tetap mendampingi Maria yang telah dipilih Allah untuk melahirkan Putra-Nya. Allah menyatakan kehendak-Nya agar Yusuf mendampingi Maria, dan Yusuf taat.

Ketulusan hati Yusuf dalam konteks ini berarti bahwa ia adalah seorang yang lurus hati. Ia bukanlah seorang yang suka hidup di luar aturan yang seharusnya dia jalankan dalam hidupnya. Pada konteks ini saya menemukan bahwa Yusuf dan Maria masih dalam status bertunangan.

Bintang Sihite http://www.persekutuanstudireformed.org/artikel9.html menuliskan

Di dalam kebudayaan Yahudi pertunangan merupakan pengikatan janji dua orang yang diikut sertai dengan pembayaran sejumlah tanda jadi pernikahan. Umumnya berlangsung selama setahun sebelum pernikahan dilangsungkan. Dalam masa itu kedua belah pihak tidak melakukan hidup sebagai suami isteri.

Sebagai seorang yang tulus hati, Yusuf menghargai nilai-nilai yang sudah diaturkan oleh tradisi itu tanpa mengurangi dan tanpa menambahkannya. Ketika dia tahu bahwa Maria sudah mengandung, seharusnya ia memberitahukannya pada ketua-ketua adat. Apabila Yusuf melakukannya, besar kemungkinan Maria akan dipermalukan di muka umum, bahkan mungkin juga akan di rajam batu.

Saya percaya bahwa Yusuf mengenal Maria tunangannya itu. Jadi tidak ada alasan baginya untuk membawakan Maria ke sidang tua-tua adat pada masa itu.  Adakah “ketulusan hati” seperti yang kita pelajari dari tokoh Yusuf ini telah menjadi nilai penting dalam hidup kita?

Yusuf adalah seorang yang hati-hati dalam mengambil keputusan penting

Mat 1:20  mengatakan “Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. 21  Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”

Ada satu pepatah yang mengatakan “Pikir dahulu pendapatan, sesal kemudian tiada guna.”

Ketika Yusuf diperhadapkan kepada situasi genting dalam kehidupannya, dan dia harus mengambil satu keputusan penting yang berhubungan dengan kehidupannya saat itu dan juga masa depannya, ia terlebih dahulu menimbang baik buruknya keputusannya tersebut.

Sekalipun dalam posisinya sebagai laki-laki dan sesuai dengan catatan di ayat 19 tadi yang menyatakan bahwa Yusuf adalah seorang yang tulus hati, Yusuf bisa saja memutuskan untuk menceraikan Maria. Tetapi perhatikanlah di ayat 20 ini disebutkan Ketika ia mempertimbangkan! Yusuf sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan penting dalam hidupnya. Marilah kita belajar untuk berhati-hati dalam mengambil keputusan penting dalam kehidupan kita masing-masing. Karena keputusan hari ini menentukan bagaimana kehidupan kita selanjutnya.

Yusuf adalah seorang yang Taat pada Perintah TUHAN

Mat 1:24-25 “24  Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya, 25  tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.”

Ketaatan kepada TUHAN adalah kunci penting dalam kehidupan Yusuf yang membawanya menjadi tokoh penting dalam sejarah penyelamatan manusia. Nilai Ketaatan yang dilakukan Yusuf adalah ketaatan yang tanpa syarat. Ia tidak menolak pesan yang disampaikan oleh malaikat dalam mimpinya. Sekalipun itu bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut orang sezamannya.

Dalam kehidupan sebagai seorang Kristen yang muda, nilai ketaatan seharusnya menjadi satu gaya hidup. Sebab kalau kita melihat kepada tokoh Yusuf ini, seandainya Yusuf tidak taat kepada Pesan Tuhan yang disampaikan oleh malaikat Tuhan dalam mimpinya, mustahil bagi kita untuk mendapatkan satu kisah natal yang heroik, dan penuh cinta.
Ketaatan merupakan satu bukti bahwa kita mencintai TUHAN. Ketaatan kita kepada TUHAN membawa kita masuk ke dalam rencana agung Tuhan. Di mana setiap kita yang mau belajar taat kepada setiap perintah Tuhan akan dipakai Tuhan sebagai alat untuk menyebarkan kuasa kehadiran Yesus yang memberi pengharapan kepada setiap orang.
Selamat Natal dan Kiranya Berkat natal di tahun ini menolong kita menjadi semakin menghargai nilai-nilai hidup yang penting dan membawa kita kepada rencana agung TUHAN.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: