Sejarah Telur Paskah


Paskah adalah satu perayaan yang tidak asing bagi banyak orang pada umumnya, khususnya bagi orang Kristen. Setiap kali ada perayaan Paskah, khususnya di Sekolah Minggu dimana pun Gereja merayakannya pastilah dimeriahkan dengan acara mencari telur paskah. Saya ingat betul ketika masih melayani anak Sekolah Minggu di GBI Setia Mekar Tambun – Bekasi, acara ini menjadi yang tidak mungkin ditiadakan.

Beberapa menit yang lalu seorang seorang rekan sesama staf di Akademi Teologia Amanat Penuaian Terakhir  bertanya mengenai sejarah dipakainya telur dalam acara-acara paskah. Pertanyaan ini menarik perhatian saya untuk mencoba mencari beberapa sumber yang menuliskan hal masuknya Telur tersebut ke dalam acara acara paskah. Hasilnya saya menemukan beberapa cerita yang hampir mirip, tapi dengan versi yang berbeda.

Sumber pertama yaitu dari http://sejarah.kompasiana.com/2011/04/26/sejarah-telur-dan-kelinci-paskah-358766.html

Sebenarnya perayaan Paskah yang sekarang ini merupakan hasil adopsi gereja-gereja terhadap salah satu festival suku Saxon, Eropa Utara. Festival ini ditujukan untuk menghormati dewi musim semi, dewi Eastre. Itulah sebabnya gereja-gereja berbahasa Inggris masih menggunakan istilah Easter dalam menyebutkan Paskah.

Pada awalnya, yaitu pada abad kedua para misionaris Kristen mendatangi suku Teutonic, Roma Utara untuk menyebarkan agama Kristen. Supaya ajaran Kristen dapat diterima oleh penduduk lokal, maka para misionaris menggunakan adat istiadat penduduk setempat yaitu salah satunya dengan mentransformasikan festival Easter ini supaya selaras dengan doktrin Kekristenan. Kebetulan waktu pelaksanaan festival ini bertepatan dengan Paskah (kebangkitan Kristus).

Telur Paskah
Orang Mesir dan Persia kuno memiliki tradisi menghias telur yang kemudian ditukarkan dengan temannya. Bangsa Mesir menguburkan telur di dalam kuburan mereka, sedangkan bangsa Yunani meletakkan telur di atas kuburan mereka. Sementara itu, bangsa Romawi memiliki pepatah yang mengatakan “semua kehidupan berasal dari telur”. Di kebanyakan kebudayaan, telur dianggap sebagai lambang kelahiran dan kebangkitan. Inilah sebabnya pada saat gereja mulai merayakan kebangkitan Kristus pada abad kedua, telur menjadi simbol yang populer. Orang Kristen Mesopotamialah yang mempelopori membagikan telur kepada orang lain pada perayaan Paskah untuk mengingatkan kebangkitan Kristus.

Sumber kedua dari http://pranataharri.blogspot.com/2012/04/sejarah-telur-paskah.html#ixzz2OhfBzfjh  yang mengutip dari http://paulusmtangke.wordpress.com   menuliskan demikian :

Sejarah telur Paskah ini beragam. Ada yang mengatakan dari tradisi kesuburan kaum Indo-Eropa dan Persia. Kala itu orang biasa saling menghadiahkan telur pada saat perayaan musim semi, yang bagi mereka juga menandai dimulainya tahun yang baru.

Ada juga yang mengatakan sejarah telur Paskah dari Raja Edward I dari Inggris (1307). Yang lain mengatakan tradisi telur paskah berawal dari sebuah promosi perusahaan penghasil permen di Eropa, permen itu berbentuk telur menggunakan momen Paskah. Telur paskah juga diyakini berasal dari tradisi Amerika, di mana perayaan Paskah kerap dibarengi dengan migrasi Burung Undan yang meninggalkan banyak telur di kebun.

Menurut sumber ketiga yang saya kutip dari www.tempo.com, sejarahnya adalah demikian :

Tradisi telur serta kelinci berawal dari kepercayaan Pagan yang sama sekali tidak terkait dengan tradisi Kristen, menghormati hari kematian dan kebangkitan Yesus. Menurut Pusat Sastra dan Kebudayaan Anak-anak Universitas Florida, asal-usul perayaan kelinci dan telur Paskah dapat ditelusuri sejak abad ke-13. Tepatnya masa pra-Kristen Jerman, waktu manusia menyembah dewa dan dewi.

Eostra Teutonik adalah satu dewi yang mereka sembah. Untuk menghormati dewi kesuburan dan musim semi ini, manusia di zaman itu mengadakan pesta di Vernal Equinox. Dan simbol yang mereka gunakan sebagai penanda kesuburan adalah kelinci. Sebab hewan mamalia satu ini identik dengan tingkat reproduksi yang tinggi. Sedangkan telur merupakan simbol kuno dari kesuburan.

Telur dan kelinci kemudian masuk dalam peringatan Paskah. Sebab, menurut History.com, telur melambangkan kebangkitan Yesus. Tapi tradisi itu baru ada ketika Katolik yang dibawa Roma menjadi agama dominan di Jerman pada abad ke-15. Tradisi Paskah pun bercampur dengan kepercayaan Pagan yang sudah mendarah daging.

Legenda Kelinci Paskah pertama didokumentasikan di tahun 1500-an. Kemudian pada 1680, muncul cerita pertama tentang kelinci yang bertelur dan menyembunyikannya di taman. Legenda ini dibawa ke Amerika Serikat pada 1700-an, ketika imigran Jerman menetap di Pennsylvania.

Kemudian terbentuklah tradisi membuat sarang bagi kelinci untuk menaruh telur-telurnya. Sarang itu dibuat dari keranjang yang dihias. Dan telur warna-warni yang ditemukan akan ditukar dengan permen atau cokelat.

Menarik untuk di ketahui bukan! Memang kalau kita menelisik dari sejarahnya, sepertinya ini bukanlah budaya asli Gereja. Ini adalah budaya yang di adopsi oleh gereja dari budaya pagan. Pertanyaannya adalah apakah budaya ini layak untuk terus di pakai dalam acara paskah? Supaya saudara tidak salah memahami maksud dari pertanyaan itu, cobalah Anda melihat sisi baik dari sejarah tersebut.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: